Bogor, penanews.net _ Jawa Barat. Hidup sendirian di kos, di usia yang tak lagi muda, membuat saya sering lupa diri. Sebagai wartawan lapangan, tugas adalah segalanya. Pola makan, pola istirahat, sering kali saya abaikan. Dan pada hari Selasa, 21 Oktober 2025 itulah, Allah menegur saya dengan cara yang tak akan pernah saya lupakan.
Pagi itu pukul 08.00 WIB, saya berangkat liputan ke Desa di Kecamatan Ciseeng. Selesai 1,5 jam, lanjut lagi ke Tajurhalang. Tanpa sadar, seharian itu perut saya hanya diisi gorengan dan segelas kopi.
Siang terik, pukul 12.00 WIB, saya bertemu rekan media di Kemang. Hanya dua buah pisang Ambon lumut yang sempat masuk. Lalu kami kembali ke Ciseeng, disuguhi es jeruk segelas besar yang langsung tandas karena dahaga. Baru pukul 15.00 WIB rasa lapar yang sesungguhnya datang. Kami pun makan seadanya di warung kecil.
Menjelang maghrib, sekitar jam 18.00 WIB, kami berpisah. Rekan pulang ke Bojonggede, saya pulang ke kontrakan di Kemang. Tapi rasa tidak enak di badan membawa saya mampir ke rumah kawan, tempat tongkrongan kami biasa. Ada 9 orang di sana malam itu, dari berbagai latar belakang, tertawa, ngobrol, ditemani kopi dan rokok.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul 00.30 WIB.
Saat hendak pamit pulang, sambil menyeruput kopi terakhir, tiba-tiba tubuh ini bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh pakaian. Nafas tersumbat, kepala sakit luar biasa, mata kabur, gelap. Lalu saya tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan.
Menurut cerita teman-teman, saya tak sadarkan diri selama dua jam. Wajah pucat pasi seperti tak ada darah. Mereka panik, menggotong dan menggendong saya ke mobil, membawa ke klinik 24 jam di Jalan Raya Kemang. Di benak mereka, ada rasa takut saya tidak akan kuat.
Tapi ALLAH MAHA KUASA. ALLAH MAHA BAIK.
Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan kedua untuk hidup. Melalui tangan dingin dokter dan perawat yang profesional, dan melalui ketulusan teman-teman yang tak sedarah namun rasa saudara, nyawa ini terselamatkan.
Pelajaran besar bagi saya dan kita semua:
*Pertama,* jangan pernah remehkan pola hidup sehat. Kopi, gorengan, rokok, telat makan, dan begadang adalah bom waktu yang kita rakit sendiri.
*Kedua,* di saat kita jatuh, kita baru tahu siapa keluarga sebenarnya. Keluarga itu bukan hanya sedarah. Saat saya tergeletak tak berdaya, yang datang pertama adalah mereka, saudara tak sedarah dari saung tongkrongan itu. Mereka yang menggendong, yang panik, yang berdoa.
*Ketiga,* umur, rezeki, dan maut adalah rahasia Allah. Tugas kita hanya menjaga titipan-Nya dengan baik.
Hari ini saya menulis ini dalam keadaan sehat, dengan air mata syukur.
Terima kasih untuk keluarga sedarah yang datang dengan doa. Terima kasih untuk keluarga tak sedarah yang telah berjuang menyelamatkan saya.
Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan saya. Tunjukkanlah saya jalan yang baik dan benar. Karuniakanlah kesehatan untuk semua saudara sedarah dan tak sedarah saya. Balaslah kebaikan mereka dengan berlipat ganda, berkahilah rezeki dan usaha mereka.
Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.
*MJ.Fahri*
_Wartawan http://vivabogornews.co.id – Alhamdulillah Sehat_











