ARTI KEMENANGAN DI KOTA SHUSTAR

 

Bandung_ penanews.net -Jawa Barat- Menelisik tangisan pilu sahabat dan Khadim Nabi; Anas bin Malik ketika kemenangan besar diraih pada penaklukkan kota tustar (shustar).

Kita kenal sahabat Nabi mulia bernama Anas bin Malik radhiyallahu anhu sebagai “khadim” pembantu Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau adalah orang anshar asli Madinah dari suku Khazraj.

Beliau merupakan saudara kandungnya seorang pahlawan islam (Pendobrak benteng di peperangan Nabi Palsu Musailamah) bernama al Barra’ bin Malik radhiyallahu anhu.

Anas bin Malik adalah salah satu perawi hadits terbanyak ke 3 setelah Abu Hurairah dan Ibnu Umar. Beliau meriwayatkan 2286 hadits dari Nabi.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, Sang Ibu Anas (Ummu Sulaim bin Milhan) bergegas tergopoh gopoh mendatangi Nabi.

Ummu Sulaim datang bersama Anas kecil yg saat itu berumur 10 tahun, seraya berkata kepada Nabi;

“Wahai Nabi, ini adalah anakku; Anas kecil. Terimalah ia sebagai khadim (pembantu) mu. Dan tolong doakanlah ia.”

Nabi pun menerimanya dan mendoakan Anas bin Malik kecil;

5984 حدثنا عبد الله بن أبي الأسود حدثنا حرمي حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس رضي الله عنه قال قالت أمي يا رسول الله خادمك أنس ادع الله له قال اللهم أكثر ماله وولده وبارك له فيما أعطيته

“Ya Allah.. Perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah baginya apapun yg Engkau berikan”

Maka, (sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim) Anas bin Malik pun berumur panjang dan jumlah anak kandung dan cucunya mencapai 100 orang ketika beliau masih hidup.

10 tahun lamanya beliau menjadi pelayan Nabi dan beliau berkata;

وروى الترمذي بسنده عن أنس رضي الله عنه قال:

“خدمت النبي صلى الله عليه وسلم عشر سنين فما قال لي أفٍّ قَطُّ، وما قال لشيء صنعته لِمَ صنعته، ولا لشيء تركته لِمَ تركته، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم من أحسن الناس خُلُقًا، ولا مسست خزًّا قطُّ ولا حريرًا ولا شيئًا كان ألين من كفِّ رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا شممت مسكًا قطُّ ولا عطرًا كان أطيب من عرق رسول الله صلى الله عليه وسلم”.

“Aku telah melayani Nabi shallallahua alaihi wa sallam selama 10 tahun. Selama 10 tahun itu, aku tidak pernah mendengar beliau berkata “aduh.. ah” (nada keluh kesah) satu kalipun. Aku juga tak pernah mendengar Nabi menyalahkanku atas sesuatu yg aku lakukan dengan kata kata “kenapa kamu lakukan itu ?!”. Beliau juga tidak pernah sama sekali menyalahkan ketika aku tidak melakukan sesuatu dengan komentar negatif. Akhlak Nabi memang nomor satu di antara semua manusia. Aku tidak pernah menemui kain wol halus ataupun sutera yang mampu menandingi halusnya telapak tangan beliau. Juga tak pernah kujumpai bau misk parfum yg lebih semerbak wanginya daripada keringat beliau shallallahu alaihi wa sallam.”

MasyaAllah. Ga kebayang bagaimana indahnya hidup setiap hari melayani Nabi dan mendampingi beliau selama 10 tahun.

Namun, kita kembali lagi ke Shustar. Sebenarnya, ada hal apa antara Anas bin Malik dengan peperangan Tustar (Shustar) ?

FB IMG 1632379606133

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab hadits shahihnya bab shalat khauf sebelum menyebutkan hadits no 945 dan Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf 18/308 serta Ibn Sa’ad dalam Thabaqatnya 5/333 bahwa sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu senantiasa menangis tatkala teringat kemenangan fenomenal pasukan muslim di pembebasan kota Tustar.*

Di sini, perlu di ingat bahwa Tustar adalah kota benteng persia yg tersulit untuk dibebaskan. Bukan sembarang kota, tapi kota benteng dengan pertahanan alami dengan kanal dan sungai besar yang membentenginya. Kurang lebih 1,5 tahun (18 bulan) lamanya pasukan muslim mengepungnya, barulah kemudian bisa takluk atas izin Allah.

Pertanyaannya adalah; kenapa justru Malik bin Anas -radhiyallahu anhu- menangis ketika mengingat ‘kemenangan’ besar ini ?

Ternyata bukan soal itu, namun jauh lebih dalam lagi. Sejumlah 30.000 pasukan muslim yg mampu mengalahkan 500.000 pasukan persia ini, berhasil menembus pertahanan musuh sesaat sebelum waktu fajar (subuh).

Betapa dahsyatnya dan gentingnya penyerbuan tersebut, hingga kaum muslimin pun tak sempat untuk melakukan shalat subuh tepat waktu dg tata cara shalat khauf !

Inilah alasan kenapa Malik justru bersedih dan menangis atas kemenangan warbyasah ini. Beliau menangis karena tidak bisa melakukan shalat subuh tepat waktu, karena peperangan yg dahsyat sedang berkecamuk.

Saat itu, Anas bin Malik berkata;

“وما تستر؟ لقد ضاعت مني صلاة الصبح, ما وددت أن لي الدنيا جميعاً بهذه الصلاة”

“Apalah artinya kemenangan gemilang di Benteng Shushtar Khuzestan itu ? Sungguh pada saat kemenangan itu aku kehilangan waktu shalat subuh ! Seandainya seluruh dunia ada di genggamanku, takkan pernah bisa melebihi agungnya shalat subuh tepat waktu.”

Akhirnya pasukan muslim baru bisa shalat subuh ketika hari sudah terang bersama Abu Musa al Asy’ari radhiyallahu anhum ajma’in.

Beliau Anas bin Malik menangis dan menyesal atas keterlambatan shalat subuh, padahal dalam kondisi udzur, bahkan nyawanya terancam karena berada di tengah kecamuk puncak peperangan Shustar.

Adapun kita mudah sekali dan ringan2 saja manakala kehilangan shalat subuh tepat pada waktunya. Apalah lagi bila kita punya job lembur hingga larut. Begitu mudah memberi udzur kepada kesalahan diri yang telat bangun subuh.

Begitulah kiranya bagaimana nilai shalat subuh bagi pendahulu kita, betapa kuatnya mereka menjaga waktu shalat. Begitu besarnya perhatian mereka terhadap persoalan shalat subuh. Jiwa dan prinsip itulah yang kiranya menjadi salah satu penyebab kenapa para sahabat begitu cepat dan banyak dikaruniai kemenangan oleh Allah.

References:

-Al Bidāyah Wan Nihāyah, Imam Ibnu Katsir
-Al Jami Al Shāhīh, Imam Bukhāry
-Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah
-Thabaqāt Ibn Saad
-Fathul Bāri, Ibnu Hajar al Asqalani
-Al Jāmi’, Imam Tirmidzi
-www.saaid.net
-majles.alukah.net

Riwayat asli dari atsar (perkataan) Anas bin Malik di atas adalah;

قال ابن سعد في “الطبقات الكبرى” (5/ 333):
6478- أخبرنا عفان بن مسلم, قال: حدثنا همام بن يحيى، عن قتادة، عن أنس بن مالك، قال: شهدت فتح تستر مع الأشعري, فلم يصل صلاة الصبح حتى انتصف النهار، قال: وما يسرني بتأخير الصلاة الدنيا وما فيها.

وقال ابن أبي شيبة في “المصنف” (18/ 308):
34514- حدثنا عفان , قال : حدثنا همام ، عن قتادة ، عن أنس ، أنه قال : شهدت فتح تستر مع الأشعري ، قال : فلم أصل صلاة الصبح حتى انتصف النهار ، وما يسرني بتلك الصلاة الدنيا جميعا

وعلقه البخاري في “صحيحه” كتاب صلاة الخوف، باب الصلاة عند مناهضة الحصون ولقاء العدو، قبل حديث رقم (945)
وقال أنس بن مالك: ” حضرت عند مناهضة حصن تستر عند إضاءة الفجر، واشتد اشتعال القتال، فلم يقدروا على الصلاة، فلم نصل إلا بعد ارتفاع النهار، فصليناها ونحن مع أبي موسى ففتح لنا، وقال أنس بن مالك: وما يسرني بتلك الصلاة الدنيا وما فيها

Oleh: Akbar Fachreza

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *