Buah Kejahatan

CERPEN…

Tak ada keraguan lagi. Jaka ingin meluruhkan amarahnya yang telah lama mendendam. Ia ingin membunuh Gofar demi harga dirinya dan martabat keluarganya. Untuk itu, sebelum tengah hari, ia bergegas ke rumah lelaki berusia kepala enam tersebut. Ia pergi dengan membawa sebilah pisau yang akan ia tikamkan ke tubuh sang lelaki tua.

Kesungguhan Jaka untuk membunuh didasari oleh alasan yang kuat. Ia menilai bahwa Gofar telah melakukan kezaliman yang tak termaafkan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah tahu dari ibunya kalau Gofar yang suka mempermainkan perempuan itu, telah merampas tanah garapan ayahnya demi memperluas kawasan perkebunan tehnya sendiri.

Tetapi aparat pertanahan yang berpihak pada uang, membuat orang tua Jaka tak bisa mempertahankan lahan. Ibunya menceritakan kalau saat itu, mereka belum mempunyai sertifikat untuk lahan yang mereka kelola secara langsung dari pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan rakyat tersebut. Mereka menunggu uang mereka cukup dari hasil panen palawija mereka.

Namun sebelum mereka berhasil menunaikan rencana, Gofar dan antek-anteknya datang, lalu mengusir mereka dengan berbekal sertifikat yang telah ia miliki atas tanah tersebut. Meski tak sanggup menerima kenyataan itu, mereka hanya pasrah, sebab mereka tahu bahwa berperkara di pengadilan malah akan membuat mereka makin sengsara.

Setelah kehilangan lahan penghidupan, sang ibu mengaku menjalani kehidupan yang berat. Sang ibu mesti bekerja serbutan di tengah kondisi sang ayah yang tak berdaya karena strok. Sampai akhirnya, demi memenuhi kebutuhan hidup, sang ibu rela mengesampingkan sakit hatinya, kemudian bekerja sebagai pemetik daun teh di perkebunan Gofar.

Pada waktu kemudian, Jaka terlahir di tengah kondisi perekonomian yang memprihatinkan. Ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan, sedang penghasilan ibunya dari perkebunan Gofar sangat pas-pasan. Namun setelah ia dewasa dan mengerti perihal harga diri, ia pun bekerja di sebuah bengkel sepeda motor dan meminta sang ibu yang sakit-sakitan untuk berhenti bekerja.

“Seandainya saja Gofar tidak merampas lahan kita dahulu, aku yakin kita akan hidup berkecukupan. Jikalau begitu, kau pun bisa kuliah hukum dan mengejar cita-citamu,” tutur ibunya, lima tahun yang lalu, ketika mereka tengah makan malam dengan menu yang sederhana.

Jaka yang saat itu terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah karena ketiadaan biaya, tetap tersenyum untuk menyuratkan ketegarannya. “Sudahlah, Bu. Jangan pusingkan soal itu lagi. Aku tak mengapa kok kalau tidak lanjut kuliah.”

Namun sang ibu tetap merasa bersedih. “Iya. Terima kasih karena kau bisa menerima keadaan kita. Tetapi seandainya kau bisa jadi polisi, jaksa, hakim, atau pengacara, kau akan punya kuasa untuk melawan orang-orang bejat seperti Gofar.”

Jaka pun tergelak pendek. “Tanpa aku menjadi siapa-siapa, setiap orang akan mendapatkan balasan yang setimpal atas kejahatannya, Bu, termasuk Gofar.”

Akhirnya, sang ibu hanya mendengkus pasrah meratapi nasib Jaka.

Tetapi kini, di usianya yang sudah menginjak kepala dua, Jaka terus memendam kekesalan kepada Gofar. Ia merasa Gofar yang telah menghancurkan masa lalu dan masa depannya. Karena itu, ia ingin pula menyaksikan kehidupan duda tersebut hancur.

Namun cerita dan akibat dari perebutan lahan orang tuanya, ternyata belum cukup untuk membuat Jaka mengambil tindakan langsung untuk menimpakan penderitaan kepada Gofar. Ia seolah belum memiliki dorongan batin yang cukup untuk menumpahkan dendamnya.

Sampai akhirnya, sesaat yang lalu, satu kenyataan lain membuat amarah Jaka terbakar. Satu kesaksian yang ia dengar langsung dari Maya, kekasihnya, seorang perempuan yang ia rencanakan akan menjadi istrinya kelak. Sang kekasih yang bekerja sebagai pemetik daun teh di perkebunan Gofar itu mengaku sedang hamil akibat pemerkosaan yang dilakukan oleh sang bos.

“Dia telah membuat hidupku hancur,” tutur Maya kemudian, sembari berlinanang air mata, setelah pengakuannya perihal kebejatan Gofar itu, setelah Jaka terus menyelidik perihal sikapnya yang berubah murung dan pendiam.

Seketika, Jaka kehilangan kesabaran atas kezaliman Gofar.

“Bahkan bukan aku saja korbannya. Aku telah mendengar pengakuan dari teman-temanku, bahwa mereka juga pernah menjadi korban pelecehan atau pemerkosaan Gofar,” terang Maya lagi, dengan tangis yang makin menjadi-jadi.

“Sialan!” ketus Jaka, kemudian beranjak dengan sepeda motornya untuk meluruhkan kegeramannya kepada Gofar.

Akhirnya, saat ini, menjelang tengah hari, Jaka pun tiba di rumah Gofar. Tanpa menunda waktu, ia lantas menerobos masuk melewati pintu yang tidak terkunci. Dan seketika, ia menemukan lelaki tua itu tengah menghitung-hitung uang, sambil mengisap sebatang rokok.

“Hai, ada apa kau datang sekonyong-konyong begini, Nak?” tanya Gofar, sembari melebarkan senyumannya.

Tetapi Jaka sama sekali tak tersentuh dengan sapaan akrab dan tampilan bersahabat Gofar, sebagaimana sebelum-sebelumnya. Dengan amarah yang memuncak, ia pun mendekap lelaki itu dan memiting lehernya, “Tua bangka sialan!” geramnya, lantas menghunjamkan tikaman berkali-kali ke bagian perut sang bos.

Seketika, Gofar terbungkam di tengah keterkejutannya. Perlahan-lahan, kesadarannya menghilang tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.

Tanpa rasa bersalah, Jaka melangkah keluar dan pulang ke rumahnya.

Waktu bergulir dalam nuansa yang kelam.

Lewat tengah hari, tiga personel polisi kemudian mendatangi Jaka di rumahnya. Tak lama berselang, Jaka yang tidak melakukan penyangkalan dan perlawanan, akhirnya dibawa oleh para polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum karena membunuh seorang lelaki yang telah membuahkan bakal anak di rahim kekasihnya.

Pada sisi lain, di teras rumah, Ibunya terus saja mengurai air mata dalam kedukaan dan kekalutan yang mendalam, tanpa ada daya sedikit pun untuk mengungkapkan kenyataan bahwa Jaka telah membunuh ayah biologisnya sendiri.***

 

 

IMG 20220228 201247
Ramli Lahaping

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *