oleh

Corona Dan PPKM Ternyata Menghasilkan “Seni

Oleh: Mariska Lubis

Kota Malang diguyur hujan sejak menjelang sore di Hari Minggu 24/01/2021. Perut lapar keroncongan terpaksa ditahan sejenak, menanti hujan agak reda hingga terlupakan sejenak. Baru sekitar pukul 21 malam saya berjalan menuju sebuah warung “Pecel Lele”, tidak jauh dari tempat saya menginap. Untung masih buka, mengingat perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berjalan.

Pemilik sekaligus penjaga warung tersebut mengaku buka sampai jam 11 malam, meskipun aturan yang berlaku hanya diijinkan sampai jam 8 malam saja. “Ini warung agak ke dalam, jadinya tidak kelihatan sama petugas. Kalau di Suhat, bolak-balik dikasih peringatan dan “digrebek” tapi tetap buka lagi buka lagi,” kata ibu yang kelihatan urat lelahnya di wajah.

“Kenapa dibuka lagi?”, Saya lanjut bertanya.

“Wong cari makan, Bu! Wis tak anggap seni aja semua ini,” jawab ibu tersebut tegas.

Dalam hati saya tersenyum, ternyata Corona dan PPKM ada hikmahnya juga, yaitu menghasilkan sebuah “Seni”. Entah ini seni bertahan hidup dan berdagang atau seni “kucing-kucingan” mengelabui dan menghadapi petugas Satpol PP. Menarik!

Walikota Malang, Jawa Timur sebenarnya memberikan kebijakan yang cukup longgar bagi masyarakat daerahnya. Bila daerah lain “dihentikan” kegiatan pada pukul 7 malam, di Kota ini diijinkan sampai pukul 8 malam. Tidak ada kekhususan soal test rapid antigen yang harganya cukup tinggi dibandingkan test rapid biasa, sehingga masyarakat dari luar daerah pun mendapatkan kemudahan.

Sayangnya, meskipun dengan segala kemudahan dan kelonggaran yang diberikan, tetap saja berdampak besar bagi masyarakat, terutama dari sisi ekonomi. Kota yang biasanya padat oleh mahasiswa dan turis lokal, sekarang kelihatan lengang dan tidak ada macet sama sekali. Jika terus menerus PPKM ini diterapkan dan diperpanjang, maka ekonomi masyarakat akan terus melemah. Sebuah dilema yang tidak mudah untuk diselesaikan.

Yang terbayang di benak saya saat menikmati pecel ayam yang dibeli di warung tersebut justru bukan itu semua. Saya membayangkan bagaimana masyarakat justru bisa menjadi lebih cerdas ketika dibawah tekanan yang keras dan bertubi-tubi. Keberanian Itu pun muncul karena tuntutan bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan.

Lantas, apakah pemerintah bisa lebih cerdas mengimbangi kemajuan pemikiran dan keberanian masyarakat ini?! Toh, tidak ada kreativitas yang berarti di dalam mengurus dan mengatur baik pemerintahan itu sendiri maupun untuk masyarakat. Tetap hanya seputar “hiperbola kebaikan dan sebatas janji manis”. Terbukti dengan tidak adanya perbaikan di dalam kehidupan bermasyarakat di segala bidang, dan tentunya Pandemi Covid-19 bukan alasan walau mempengaruhi.

Lapar dan kebutuhan masyarakat yang terus diabaikan dan “ditindas” tidak akan membuat masyarakat kalah, justru sebaliknya. Kebangkitan itu akan muncul semakin membara dan tidak bisa dibendung lagi. Hukum Boyle (P1:V1 = P2:V2), bukan sekedar hukum tentang alam yang bisa dibantahkan begitu saja.

Malang, 22 Januari 2021

Mariska Lubis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Dimanapun tempat apabila dilakukan tekanan maka akan lebih menggeliat lagi
    Semakin ditekan semakin menggeliat

News Feed