Kotabaru, penanews.net – Dalam rangkaian Festival Budaya Saijaan (FBS) 2026, Forum Diskusi Budaya Bajau Samah kembali digelar di Masjid Apung Siring Laut Kotabaru, Jumat (24/7/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Magic from the Sea, Samah Bajau dalam Bingkai: Merawat Tradisi, Menjaga Laut, Mewariskan Peradaban Maritim Nusantara”.
Forum budaya ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Kotabaru, sastrawan, masyarakat Suku Bajau, serta para pelajar. Suasana diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah peserta turut menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait sejarah, budaya, hingga masa depan masyarakat Bajau.
Presiden Perkumpulan Orang Same Bajau Indonesia (POSBI), Erni Bajau, menjelaskan bahwa hingga kini asal-usul Suku Bajau masih memiliki beberapa versi. Ada yang menyebut berasal dari Bajau Sulu di Filipina, sementara versi lain menyebut Johor, Malaysia. Namun, menurutnya, kajian yang dilakukan lebih mengarah pada keterkaitan dengan Kesultanan Sulu di Filipina.
Erni mengungkapkan, penelitian mengenai sejarah Suku Bajau masih menghadapi berbagai kendala karena minimnya peninggalan sejarah berupa situs atau kerajaan Bajau di Indonesia.
“Kesulitan kami dalam penelitian sampai saat ini, tidak seperti suku-suku lain yang memiliki situs peninggalan kerajaan. Di Indonesia belum ditemukan peninggalan kerajaan Bajau, meski ada keterkaitan dengan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Selain membahas sejarah, Erni juga memaparkan upaya POSBI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat Bajau melalui program beasiswa. Tahun lalu, POSBI bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Jakarta serta memanfaatkan program beasiswa aspirasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda Bajau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurutnya, dari kuota 50 penerima beasiswa yang tersedia, hanya sembilan orang yang akhirnya mengikuti program tersebut. Rendahnya partisipasi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tidak mendapat izin orang tua, rasa takut merantau ke kota besar, hingga keterbatasan biaya perjalanan menuju Jakarta.
Ia mencontohkan kondisi calon mahasiswa dari Nusa Tenggara Timur yang harus menempuh perjalanan panjang dengan beberapa kali menggunakan kapal laut dan pesawat, sehingga membutuhkan biaya hingga sekitar Rp8 juta.
Dalam kesempatan itu, Erni juga mengajak seluruh pihak untuk terus mengampanyekan keberadaan dan penyebaran masyarakat Bajau di Indonesia. Ia menyampaikan empat keajaiban masyarakat Bajau yang selaras dengan tema Magic from the Sea, di antaranya penyebaran penduduk yang luas, kehidupan yang sangat dekat bahkan menyatu dengan laut, serta kesamaan bahasa yang digunakan masyarakat Bajau di berbagai daerah seperti Kepulauan Riau, Jawa Timur, Sulawesi, hingga Papua.
“Meski tersebar di berbagai wilayah Indonesia, ketika orang Bajau bertemu, kami tetap menggunakan bahasa yang sama,” katanya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, POSBI bersama seluruh peserta forum membacakan Deklarasi Suku Bajau sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga identitas budaya, melestarikan tradisi, serta mewariskan peradaban maritim kepada generasi mendatang.
(Aswad)





