“G2RT, Proses Penciptaan Iconic Indonesia yang Mendunia”

REPORTASE WEBINAR NASIONAL

Mesir 4 g2rt

“G2RT, Proses Penciptaan Iconic Indonesia yang Mendunia”

“Saat ini Indonesia harus berbangga karena memiliki sekitar 80 ribu desa dan ribuan budaya unik. Belum lagi kekayaan SDM dan SDA. Kekayaan budaya, desa dan SDM itu seandainya bisa dikomersialisasikan, maka Indonesia bisa menjadi negara iconic,” kata Prof Rika Fatimah, P.L.,MSC.,Ph.D. pada webinar Nasional “Pengembangan Kualitas Produk UMKM Bernilai Tambah Dalam Rangka Penetrasi Ke Pasar Mesir” yang dilaksanakan Kementerian Perdagangan RI bekerjasama dengan Atase Perdagangan Kedubes Indonesia di Mesir, pada Rabu (16/12/2020).

“Penciptaan produk iconic menjadi penting, karena Indonesia dengan segala kekayaannya tidak semestinya menjadi negara follower. Oleh karenanya gerakan menghidupkan produk iconic asli Indonesia ini harus diupayakan menjadi gerakan besar dengan support penuh negara,” tambah Rika Fatimah yang juga penemu konsep G2RT.

Menurutnya, gerakan besar itu tentu saja tidak mampu dikerjakan oleh pelaku UMKM sendirian. Harus dibackup plus takehandle oleh negara agar gerakan itu akan lebih mudah dan smooth.

“Kemudian keywordnya memang betul: adalah kolaborasi. Tapi bukan hanya kolaborasi. UMKM biasanya setelah sekali ekspor, selanjutnya main sendiri-sendiri. Tetapi yang dibutuhkan adalah bersatu untuk bergerak menjadi besar dan punya kemampuan penetrasi ke pasar global khususnya Mesir,” sambung Rika Fatimah lagi.

Untuk itu peran UMKM di Indonesia khususnya Global Gotong Royong Tetrapreneur (G2RT) DIY adalah menyiapkan sisi hulu. Dengan harapan sisi hilir untuk penetrasi ke pasar global khususnya Mesir dapat lebih dibuka oleh pemerintah.

Sementara penyiapan di sisi hulu, yang dapat dilakukan oleh G2RT sejauh ini adalah menyiapkan dari sisi kualitas produk iconic desa.

Mesir Dua.jpg

“Segi kualitas bukan hanya yang melekat pada produk, tetapi mulai bergeser ke etika proses. G2RT mengangkat lagi (elevating) hal selain proses bisnis, juga pergerakannya. Karena proses yang smooth belum tentu akan sustained jika tidak didukung oleh ekosistem yang baik untuk menjaga sustainabilitynya,” terang Rika Fatimah.

Hal itulah yang menyebabkan kecenderungan UMKM nasional selama ini hanya sekali atau dua kali ekspor, setelah itu berhenti. Tidak longlasting dan tidak berkesinambungan.

Lebih lanjut Rika Fatimah menerangkan bahwa dalam segi kualitas terdapat kadar mutu produk yang belum terukur, yang merupakan salah satu problem klasik dari wirausaha lokal atau UMKM pada umumnya.

Uniknya, produk lokal Indonesia yang dipasarkan di luarnegeri–misalnya Malaysia–rata-rata mempunyai mutu premium. Sayangnya produk yang bermutu tersebut dijual dengan harga “malu-malu” atau terlalu rendah.

Kedua, UMKM nasional lebih suka single player, minus visioner dan asal laku. Tetapi punya keinginan besar untuk laris dan instan. Disamping itu UMKM belum mempunyai produk yang iconic.

Ketiga, Alergi terhadap filosofi kebaruan proses bisnis dan ilmu atau lack of knowledge.

“Hal itulah yang menyebabkan produk-produk kita “always be follower”.  lagipula kurang memiliki mental untuk fight menyelesaikan masalah,” imbuh Rika Fatimah.

“Oleh karena itulah support penuh negara amat dibutuhkan. Bagaimana agar kekuatan ekonomi kecil UMKM yang banyak bisa diatur dengan kebijakan dan pendekatan yang berpihak pada usaha kecil,” tambahnya.

Pendampingan dan bimbingan hendaknya juga jangan tergesa-gesa. Tetapi harus dilakukan dengan perlahan dan sabar, sampai saatnya menjadi besar dan siap menerobos pasar global.

Diyakini bahwa usaha, produktivitas dan kualitas dari produk-produk Indoneia tidaklah kalah. Internal kita memang sudah menyentuh dalam pembinaan, tetapi agaknya harus lebih berani lagi menerobos pasar global.

“Model G2RT DIY adalah pengulangan kembali sejarah bahwa salah satu dari miracle iconic di dunia ada di Indonesia. Dan yang membangun adalah nenek moyang bangsa Indonesia. Sebagai contoh Candi Borobudur, Candi Prambanan, aneka ragam kebudayaan asli dan lain-lain yang menjadi iconic.”

Iconic menjadi target karena mempunyai aliran kemanfaatan yang sustained. Contohnya, wisatawan lokal dan dunia akan terus berdatangan untuk melihat Borodudur, Prambanan dan sebagainya,” cetus Rika Fatimah.

Mesir3 Rika Fatimah.jpg

RIKA FATIMAH

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *