Gugur Bunga Tak Menghapus Kebenaran, Indonesia Bukan Mainan!

GUGUR BUNGA TAK MENGHAPUS KEBENARAN, INDONESIA BUKAN MAINAN!

IMG 20201209 WA0053

Oleh: Mariska Lubis, Penulis Senior, Pengusaha

 

Tanah Airku bukan mainan!
Tanah Airku adalah tumpah darahku!
Bila tidak ada cinta untuk tanah Airku, tak perlu kau tumpahkan darah rakyatku hanya untuk kesenanganmu semata.
Bilapun kau berkata cinta, di manakah sesungguhnya ia berada?!

—-

Hati saya gelisah semalaman, bahkan ketika pesawat saya terbang meninggalkan Jakarta Hari Senin, 7 Desember 2020, dada ini terasa sangat sesak. Malam sebelumnya firasat berbunyi, ketika angin kencang dan hujan datang, Saya berkata pada seorang kakak, “Mas, saya melihat banyak korban, dan bila pesawat saya terbang, Jakarta sepertinya akan terjadi sesuatu. Banjir barangkali”. Astagfirullah, ternyata bunga berguguran dan darah yang tumpah membuat negeriku banjir oleh tangis yang sungguh sangat menyedihkan.

Ingin saya bertanya, “Mengapa semua ini harus terjadi?’, namun sudah tidak sanggup lagi. Saya memilih diam sejenak untuk berpikir dan memohon petunjuk Allah. Sepahit apapun peristiwa, selalu ada kebaikan Allah dengan segala keadilanNya. Allah ingin keenam korban penembakan menjadi Mujahid yang dimuliakan dan diberikan tempat terhormat di sisiNya, dan Kita semua yang ditinggalkan diberikan peta lebih jelas untuk melihat dan memilih, agar tidak tersesat. Subhanallah alhamdulillah Allahu Akbar!

Bukan hal baru yang mesti disangkal dan dipungkiri bila Indonesia adalah ibarat negeri impian, nirwana yang kaya raya hingga selalu diperebutkan oleh berbagai pihak yang rakus, tamak, dan tidak memiliki kehormatan. Saya sebut tidak memiliki kehormatan sebab tidak mampu menghormati Allah yang sesungguhnya memiliki semua yang ada, sehingga tidak juga mampu mengerti apalagi berbuat dan berpikir bahwa semua yang ada sesungguhnya pula disediakan untuk menjadi guna dan manfaat bersama. Keadilan yang beradab bukan sekedar omong kosong! Indonesia sungguh bukan tempat bermain!!!

Tentunya apa yang terjadi saat ini bukanlah tiba-tiba, namun merupakan rangkaian atas rencana-rencana busuk yang sudah direncanakan sejak lama dan perlahan-lahan diterapkan dengan sistematis. Kepura-puraan dan kemunafikan itu terlalu nyata untuk disembunyikan terus menerus. Menutupi keburukan tetap akan terkuak pada saat dan waktunya.

Sejak awal reformasi, bahkan setelah baru saja perang dingin usai, Dunia Internasional sudah menjalankan rencana busuknya. Globalisasi dengan segala rangkaian rencana, mulai dari soal demokrasi dan HAM, urusan money laundry, sampai ke teknologi digital sudah menjadi bagian dari rencana busuk untuk kekuasaan, dan menguasai Indonesia tentunya menjadi impian indah yang menjadi obsesi dan ambisi untuk terwujud. Sayangnya, terlalu terlambat baik bagi para politisi, aktivis, dan rakyat Indonesia menyadari hal ini. Kebencian yang ada terhadap Order Baru pun dimanfaatkan sebagai jalan masuk.

Jika saat ini Kita memiliki krisis kebersamaan dan persatuan, krisis pemimpin, dan yang terparah adalah krisis ilmu pengetahuan yang mampu menganalisa secara jernih duduk persoalan secara utuh dan menyeluruh, bukanlah sesuatu yang menggerakkan. Masyarakat Indonesia didominasi oleh “audience people”, yang hanya senang menonton, senang menjadi tontonan (eksistensi), dan mudah sekali yakin/tergiring tontonan, menjadi bukti keberhasilan konspirasi pembodohan yang dibuat. Tak heran bila masyarakat Indonesia saat ini sangat mudah digiring oleh isyu, saling memaki, marah, pecah belah, dan pada akhirnya tidak mampu memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah.

Yang lebih menyedihkannya lagi, perubahan begitu diinginkan namun tidak ada yang siap untuk berubah. Strategi Buruk yang dilemparkan ke masyarakat, dengan segala omong kosong, hiperbola jurnalisme kuning, dan segala drama yang dibuat pun bisa berhasil dilakukan dengan mudahnya. Menerima hal yang baru pun sulit, menggunakan teknologi juga hanya sebatas pengguna. Sedikit sekali yang menjadi cendekiawan pemikir yang benar-benar membuat terobosan baru. Terbukti dengan hanya sedikit saja yang paham bagaimana perang saat ini sangat terkait erat dengan teknologi, bahkan untuk urusan ekonomi dan agama. Kita dipaksa oleh teknologi, pada akhirnya, bukan Kita yang berinisiatif memanfaatkan teknologi untuk lebih maju dan terdepan.

Namun, sudahlah. Semua sudah terjadi. Bunga pun sudah gugur dan tidak boleh sampai terulang lagi. Segala pahit harus ditelan dengan jiwa besar dan dilihat hikmah dari semua ini. Sekarang waktunya untuk berhenti menjadi bulan-bulanan permainan politik kotor dan strategi buruk. Saat ini waktunya bangkit dan bersatu. Lepaskan semua baju, ambisi, dan segala embel-embel keinginan. Fokus pada tujuan yang sama, kembali pada Indonesia Adil dan Makmur, damai sejahtera. Jangan biarkan Indonesia dikuasai oleh siapapun selain rakyat Indonesia. Indonesia Bukan Mainan!!!

Peta itu sudah begitu nyata dipertontonkan di hadapan mata. Buka mata hati dan telinga, gunakan hati untuk berpikir dan mencerna semua ini. Kebenaran tetaplah kebenaran, jangan sampai Indonesia tersesat!!!

9 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *