oleh

GURU OH GURU

Foto: Republika.co.id

 

GURU OH GURU

 

Oleh : Muhammad Chirzin, Cendekiawan Muslim

Guru dalam khazanah Jawa dimaknai sebagai singkatan dari digugu lan ditiru; yang didengar, diikuti, dan diteladani. Ki Hajar Dewantara berpesan, Ing ngarsa sung tuladha; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani – di depan memberi contoh, di tengah ikut bekerja, di belakang memberi dorongan.

Maha Guru Allah swt berfirman,

Dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar!” (QS 2:31)

Allah Yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. (QS 55:1-4)

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:4-5)

Tugas guru ialah membantu murid menemukan rencana Tuhan untuk dirinya.

Peserta didik masing-masing punya karakter sendiri-sendiri. Ibarat pohon-pohon di hutan yang beraneka ragam yang harus dikenali satu per satu dengan baik, agar pembelajaran efektif.

Pembelajaran akan efektif apabila dilaksanakan dalam suasana menyenangkan.

Mendidik dan mengajar dengan hati dan cinta.

Guru membesarkan murid dan murid membesarkan guru. Ingat Ibnu Taimiyyah dengan Ibnu Qayyim dan Ibnu Katsir, Muhammad Abduh dengan Muhammad Rasyid Ridha.

Buah hanya dapat dirasakan di dalam buah itu sendiri. Melalui cara yang sama, anak Adam hanya dapat memberikan apa yang mereka miliki di dalam diri mereka sendiri (MR Bawa Muhaiyaddeen). Orang yang tak punya tak dapat memberi.

Kebaikan tidak bernilai selama hanya diucapkan; baru bernilai setelah dikerjakan (Umar bin Khaththab). Akhirnya hidup yang besar bukanlah pengetahuan, melainkan perbuatan (A.L. Huxley).

Jika engkau ingin tidak dilupakan orang segera setelah engkau meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau perbuatlah sesuatu yang patut diabadikan dalam tulisan (Benjamin Franklin).

Kesadaran, sekalipun hanya sesaat saja, seringkali lebih berharga daripada pengalaman sepanjang hidup (OW Holmes).

Kesadaran adalah matahari.

Kesabaran adalah bumi.

Keberanian menjadi cakrawala.

Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

(WS Rendra).

Guru yang bijaksana niscaya mengabadikan ilmunya dalam tulisan, sesuai dengan kearifan Yunani, “Verba volant, scripta manent – Kata-kata lisan lenyap menguap, sementara tulisan abadi menetap.” “Para pujangga semua negara adalah penerjemah keabadian.” Demikian kata Helen Keller.

Benjamin Franklin pun berpesan, “Jika tak ingin dilupakan setelah meninggal dunia, lakukanlah apa yang patut ditulis atau tulislah sesuatu yang patut dibaca.” Hal itu sejalan dengan pesan Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah, jika tidak menulis, engkau akan tersingkir dari panggung peradaban dan dari pusaran sejarah.”

Untuk menjadi guru sekaligus penulis tidak perlu bakat, karena bakat ialah kesabaran dan ketekunan yang lama. Pekerjaan yang dilakukan dengan hati menyenangkan hati. Sang Alkemis, tokoh novel spiritual Paulo Coelho menasihati, “Cita-citakan sesuatu yang agung dan mulia, niscaya alam semesta bahu-membahu membantu mewujudkan cita-citamu.”

Filosof Friedrich Nietszche pun mencurahkan isi hati,  ”Kebanggaan terbesar seorang guru ialah jika muridnya mengungguli dirinya.” Guru pun niscaya selalu ingat bahwa satu teladan lebih berpengaruh daripada sepuluh nasihat. Guru yang berhenti belajar seyogianya berhenti mengajar.

Petuah guru-guru dari berbagai penjuru niscaya dicamkan dan diindahkan. Orang terpelajar ialah orang yang pandai menggunakan waktunya untuk belajar. Orang yang tidak mencari nasihat adalah bodoh; kebodohan itu membuatnya buta terhadap kebenaran dan membuatnya menjadi jahat, keras kepala, dan ancaman bagi orang-orang di sekelilingnya.

Kalau kebenaran menghalangi jalan kita, berarti kita sedang berada di jalan yang salah. Manakala kita menyadari bahwa kita menyeleweng, adalah kewajiban kita untuk berbalik dan kembali meneruskan perjalanan yang benar.

Kemampuan kita untuk meraih sukses dalam perjalanan hidup yang panjang ini tidak tergantung hanya pada inteligensia saja. Kemajuan adalah hasil pemusatan kekuatan jiwa dan pikiran kepada cita-cita yang dituju.

Dengan sarana kebebasan, toleransi, dan pendidikan orang-orang hebat dan bijak telah membuka jalan untuk menyelamatkan seluruh dunia. Orang yang mempelajari undang-undang kebijaksanaan tanpa menerapkannya dalam kehidupannya sendiri, sama dengan seorang petani yang tidak menaburkan benih.

Tidak rugi orang yang minta keterangan dan bermusyawarah. Pikiran sama dengan adonan beton; jika tidak diaduk terus-menerus akan membeku dan mengeras. Pikiran-pikiran kita adalah benih, dan panenan yang kita petik bergantung pada benih yang kita tanam.

Semua orang tahu jalan menuju sukses, tetapi tidak semua orang menempuhnya. Bila engkau berjumpa dengan seseorang yang mengagumkan, ketahuilah, bahwa ia telah melakukan apa yang belum engkau lakukan. Sukses adalah satu persen bakat dan 99 persen kerja keras.

Pengetahuan manusia ibarat air, sebagian datang dari atas dan sebagian memancar dari bawah; yang dari bawah cahaya alam, dan yang dari atas ilham Ilahi. Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri adalah orang biadab, betapa pun tinggi pengetahuannya.

Guru mengajari kita untuk berpikir. Ubahlah pikiranmu, dan kau sudah mengubah duniamu. Pikiran positif dalam hal apa pun pasti lebih baik ketimbang pikiran negatif. Dalam melakukan pengobatan, obatilah dulu pikiran. Pensil tajam akan membuat tulisan kita tajam pula. Akal yang tajam pasti juga akan membuat keputusan-keputusan tajam.

Memiliki pengetahuan berarti mengerti tujuan yang benar dan salah, mengerti hal-hal yang mulia dan yang hina. Ilmu pengetahuan tanpa hati nurani, tidak lain hanyalah reruntuhan jiwa. Berpikir benar, berkata benar, berbuat benar, berkebiasaan benar, berkarakter benar.

Berbuatlah apa yang baik dalam batas-batas kemampuanmu; dengan cara-cara yang terbuka bagimu; di segala tempat yang ada dalam pengetahuanmu; dalam setiap waktu yang tersedia bagimu; kepada semua orang yang ada dalam jaungkauanmu; sepanjang masa hidupmu.

Guru mengajari kita membaca dan menulis. Apabila manusia berada pada ilmu yang hakiki, maka ia akan bersemangat untuk mengajarkannya. Otak kita adalah ibarat raksasa tidur.  Membaca membuka otak dari kegelapan. Kalau seseorang tidak membaca buku, maka bagaimana ia bisa membuka otaknya dari suasana terkucil. Membaca adalah memperkaya perbendaharaan jiwa; oleh karena itu sangat membahagiakan.

Guru menginsyafkan kita akan proses. Guru memberi pencerahan, menggugah kesadaran akan potensi yang terpendam. Sudah pasti kewajiban utama manusia ialah memperkembangkan diri sendiri, seperti dilakukan bangsa Yunani purba yang luar biasa itu. Bila seseorang bekerja sebagai penyapu jalan, ia harus menyapu jalan seperti Michelangelo melukis, Beethoven mencipta musik, atau Shakespeare menulis puisi.

Luangkan sedikit waktu setiap hari untuk menganjurkan dan meyakinkan diri sendiri: setiap hari saya berkembang maju; setiap hari saya tumbuh; setiap hari saya makin bijaksana; setiap hari saya tambah dewasa; setiap hari saya mampu rileks; setiap hari saya bertambah percaya diri; setiap hari saya makin damai di hati; setiap hari saya makin bahagia.

Jadilah manusia yang mulia, suka menolong dan berbuat baik, karena hal-hal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain.

Pandangan tentang nilai karakter, bahwa kecerdasan budi tidak kurang pentingnya dari kecerdasan akal, bahkan paling perlu dalam kehidupan manusia. Tingkah laku sopan dan hormat terhadap orang lain adalah dua sifat utama seorang yang bijaksana.

Orang dengan kemampuan rata-rata, yang mengenali kekurangan dan berusaha keras untuk mengimbanginya, bisa memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tak memiliki kekurangan, namun kurang keras berusaha.

Dalam segala hal, yang terbaik adalah jalan tengah; segala sesuatu yang melampaui batas menimbulkan kesukaran. Sebagai warga dunia kita perlu kesadaran baru, bahwa kita sedang hidup bersama dengan orang lain yang memiliki latar belakang kewarganegaraan, agama, sosial dan budaya yang berbeda.

Harga suatu umat beragama ialah selama mereka memegang teguh agamanya; harga suatu bangsa terletak dalam kemampuan mereka memegang identitasnya.

Etos belajar dan kesungguhan; belajar dari siapa saja. Adalah orang yang demikian bijaksananya sehingga mau belajar dari pengalaman orang lain.

Percaya diri dan kebanggaan di akhir perjuangan menerobos tembok kendala memberi keyakinan yang makin tinggi, dan keyakinan ini akan membimbing menuju ke sukses berikutnya yang lebih besar. Kalau tak ada jalan aku akan membuatnya; tiada sesuatu yang mustahil bagi orang yang mau.

Nilai tambah pemikiran yang dibukukan dituturkan oleh Sayyid Quthb, “Sebuah peluru hanya bisa menembus satu kepala, sedangkan sebuah buku dapat menembus ribuan, bahkan jutaan kepala.” Buya Hamka pun berpesan, “Penulis harus lebih banyak membaca daripada menulis.”

Buku adalah teman setia di setiap ruang dan waktu.

Buku adalah sumber ilmu dan kepanjangan tangan guru.

Buku adalah barometer zaman dan penggerak perubahan.

 

Berhenti, tak ada tempat di jalan ini.

Sikap lamban berarti mati.

Siapa bergerak, dialah yang maju ke depan.

Siapa berhenti, sejenak sekali pun, pasti tergilas.

(Mohammad Iqbal)

Berusaha membahagiakan guru. Guru menginspirasi untuk bercita-cita. Setiap kehidupan mempunyai celah yang kosong. Celah itu harus diisi dengan cita-cita. Kalau tidak, ia akan tetap kosong dan tak akan mempunyai faedah untuk selama-lamanya. Tidak mungkin seorang manusia berbuat demi kemaslahatan umum jika ia tidak merasakan adanya ikatan antara dirinya dengan orang-orang lain.

Di Jepang, profesi guru sangat prestisius dan dihormati. Ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh musuh pada 1945, golongan yang sangat dikhawatirkan nasibnya dan sangat diharapkan peran sertanya oleh Kaisar adalah guru.

Profesi apa pun membutuhkan guru.

Tulang punggung dunia pendidikan adalah guru.

Guru Pahlawan Tanpa Masa Depan.

Guru Pahlawan Tanpa Penghargaan.

 

Guru adalah nafas dan penerang pendidikan.

Tanpa guru gelap dan matilah dunia pendidikan.

Hargailah guru selayaknya.

 

Terima kasihku kuucapkan.

Pada guruku yang tulus.

Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan.

Untuk bekalku nanti.

Setiap hari kudibimbingnya.

Agar tumbuhlah bakatku.

Kan kuingat selalu nasihat guruku.

Terima kasih kuucapkan.

Muhammad Chirzin

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Alhamdulillah, terima kasih support yg inspuratif yg membangunkan diri saya unt menulis meskipun mungkin hanya satu bait puisi.Lama sekali sy tdk menulis, tenggelam dlm kesibukan rumah tangga sehari-hari

News Feed