Inovasi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MAN Demak Raih 2 Medali ‘Level’ Asia

Liputan: Supriyono – penanews.net/Demak

Penanews.net_Demak. Temuan inovatif, limbah masker medis untuk media tanam sayuran dan lele labu untuk bahan pembuat mie, sukses mengantar Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MAN Demak meraih dua medali di ajang kompetisi Internasional AISEEF Tingkat Asia, yang diumumkan penyelenggara lomba pada Selasa (23/2/2021) lalu. Satu medali perak didapat dari kategori Environmental (lingkungan), dan satu medali perunggu dari kategori life Sciences (ilmu kehidupan).

Upaya Dwi Suliyanti, M. Pd., guru pembimbing kegiatan ekstra-kurikuler KIR MAN Demak, mengikut sertakan hasil riset anak-anak asuhnya ‘Go International’, tergolong sukses. Pada ajang Asian Inovation Science Environmental Entrepreneur Fair (AISEEF) yang diselenggarakan oleh IYSA, MIICA, dan lembaga penelitian lainnya itu, dua Karya Tulis Ilmiah (KTI) inovatif yang dihasilkan KIR MAN Demak, di dua kategori berbeda, ditetapkan menjadi peraih perak dan perunggu.

Saat dikonfirmasi penanews.net (27/2), Dwi Suliyanti, guru bidang studi kimia itu menuturkan, tim pertama KIR MAN Demak mengirimkan KTI kategori Environmental (lingkungan), berjudul “HydroMaskPonic”. Sebuah riset inovatif memanfaatkan limbah masker medis, diubah menjadi media tanam sayur sawi hijau. Sedangkan tim kedua mengirim karya riset kategori Life Sciences (ilmu kehidupan), berjudul “Mie Lela”. Sebuah inovasi alternatif bidang pangan. Memanfaatkan lele dan labu utk dijadikan mie, guna mendukung keseimbangan gizi masyarakat.

MAN DEmak1.jpg

“Riset kami tentang HydroMaskPonic, yang meraih medali perak, sebenarnya diilhami oleh situasi pandemi Covid-19 saat ini. Limbah masker medis umumnya dibuang atau berserak begitu saja. Padahal limbah masker itu masih bisa bernilai guna. Caranya, dihilangkan dulu kemungkinan virusnya, lalu limbah masker dicuci sabun dan direndam alkohol. Kemudian, lapisannya dibuka dan dikelupas. Bagian luar dijadikan hidroponiknya, bagian dalam dijadikan media tanam sawi hijau. Ternyata, fakta hasil riset membuktikan, sawi hijau yang ditanam tumbuh lebih cepat di media masker,” terang bu guru, yang saat memberikan keterangan rumahnya di Sayung Demak, masih tergenang banjir sudah hampir sebulan ini.

Di sela-sela kesibukannya yang juga menjadi Ketua Koperasi MAN Demak, perempuan yang juga akrab di sapa Bu Lilik ini, menuturkan pula tentang Mie Lela, yang di ajang lomba tersebut meraih medali perunggu.

“Mie Lela ini dibuat dari bahan lele dan labu. Hal yang mendasari riset ini adalah tingginya tingkat konsumsi mie instan masyarakat. Mie instan sendiri ditinjau dari aspek keseimbangan nutrisi oleh beberapa kajian ilmiah, “kurang tepat” untuk dikonsumsi harian dan dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kualitas kesehatan. Sementara lele dan labu tersedia sangat melimpah di masyarakat, tapi masih disepelekan. Padahal keduanya memiliki nilai gizi yang tinggi. Sehingga muncul ide kami membuat mie dari bahan daging lele & buah labu,” tuturnya.

Disinggung penanews.net mengenai siapa saja peserta didik dari kedua tim yang ikut berkompetisi di ajang tersebut, Liliek menuturkan, untuk Tim HydroMaskPonic terdiri Uswatuh Hasanah (XI MIPA 1), Silvina Nurul Wahidah (XI MIPA 1), Roikhatun Nurul Jannah (XI MIPA 5), Ahmad Roisul Ishlah (XI IPS 4), dan Aqnassari Mutsla Ningrum (XI MIPA 5). Sedangkan, tim Mie Lela, antara lain Liya Mawwadah (XI MIPA 2), Siti Nur Fita NM (XI MIPA 2), Leni Marlina Putri (X IPS 4), Cicilia Audri Ardiyanti (X IPS 2), dan Ibrahim Eka Saputra (X IPS 2).

Mengenai bagaimana proses yang dijalani sampai dua karya ilmiah anak-anak KIR MAN Demak ‘menggondol’ dua medali internasional, menembus ‘level’ Asia, Lilik pun menjelaskan tahapan-tahapan yang dilalui bersama anak asuhnya.
“Awalnya info lomba (17/1) kami ketahui dari Waka Kesiswaan, Bapak Nur Cholis S. Pd. Kemudian, bersama anak-anak dan guru lain yang menguasai mikro biologi dan kultur jaringan, penggalian ide pun kami lakukan selama dua hari (18-19/1). Lalu, sehari kami konseling ide ke sumber-sumber referensi, menggali fakta dan data teoritis, dilanjutkan pembuatan produk (20/1). Sembilan hari berikutnya, anak-anak melakukan pengamatan produk, melakukan identifikasi dan verifikasi fakta dan data yang ditemukan di lapangan, dilanjutkan pembuatan KTI, dengan melibatkan guru bahasa, Sulistyawati, S. Pd., sebagai editornya (21-29). Kemudian pendaftaran Tim KIR MAN Demak ke panitia penyelenggara (31/1). Pengumpulan KTI, video presentasi & poster (5/2). Sesi penjurian oleh penyelenggara (19/2). Pengumuman pemengang (23/2), dan alhamdulillah, ternyata oh ternyata, Alloh SWT memberkati usaha kami. KTI dari dua tim yang kami kompetisikan di ajang AISEEF pada dua kategori berbeda, ‘nyantol’ dapat dua medali, yaitu satu perak dan satu perunggu di level Asia,” pungkas Lilik dengan wajah ‘sumringah’ kepada Supriyono/daniel penanews.net wilayah Demak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *