Jadi Langganan Macet, Warga Harap Pengaturan Lalin Simpang Jampang Bogor

Jurnalis : Boim / Fahry

BOGOR _ JAWA BARAT|| Pertigaan Jampang atau simpang Jampang Desa Jampang Kecamatan Kemang, menjadi titik lokasi rutin terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan raya Kemang Parung.

Berdasarkan keterangan warga sekitar, kemacetan di ruas jalan kelas nasional ini sudah sejak lama dan sering terjadi setiap hari. Terlebih di hari libur biasa ataupun pada libur akhir pekan.

“Sudah sejak lama macet di lokasi ini seringkali terjadi, apa lagi sejak ada jalan Bonang makin parah dan makin semrawut lalu lalang kendaraan di simpang Jampang,” ungkap Putri (24) seorang warga Kecamatan Kemang, Minggu (7/5/2023).

Kondisi terakhir, pantauan redaksi media ini, kemacetan yang terjadi di jalan raya ini cukup panjang, khususnya di jalur dari arah Bogor Kota menuju Parung. Kemacetan diperkirakan mencapai 1 (satu) kilometer lebih. Tepatnya dari sekitar SPBU Pabuaran Kemang hingga melewati kawasan Dompet Dhuafa.

“iya sudah sejak jam 11 siang macet parah satu jalur arah Parung. Selain di pertigaan Jampang karena keluar masuk kendaraan, kemacetan juga di akibatkan ada perbaikan jalan,” ungkap Dadang warga sekitar lokasi.

Menanggapi kemacetan yang rutin terjadi di lokasi ini, pengamat sosial dan kebijakan publik, Abu Swandana yang dihubungi awak media mengatakan bahwa sudah seharusnya Kemenhub RI dan Dishub Kabupaten Bogor segera melakukan koordinasi dan intervensi guna menangani masalah tersebut.

“ini kan jalan nasional, jadi kewenangan dari Kemenhub RI. Pemkab Bogor dan Dishub Kabupaten Bogor juga harus ikut serta membantu penanganan karena lokasi ini ada di wilayah Kabupaten Bogor,” ungkap mantan jurnalis senior ini melalui sambungan telepon.

Pendiri Skoba Institute ini menjelaskan bahwa intervensi aparat berwenang di bidang perhubungan sangat penting karena fungsi jalan raya sangat vital sebagai akses publik yang semestinya lancar dan tidak dibiarkan macet.

“kalau dibiarkan terus, jelas merugikan masyarakat. Semua aktivitas terganggu, keperluan terhambat, pemakaian BBM bertambah. Itu semua menambah beban masyarakat. Belum lagi kalau ada warga yang sakit, hendak melahirkan dan lain – lainnya. Tentu sangat terganggu,” tukas Abu Swandana.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *