Kebodohan Manusia Penonton: Meyakini Tontonan

Oleh: Mariska Lubis
Pemerhati Sosial Politik Ekonomi


Manusia tidak selamanya selalu pasti benar, dan tidak selalu juga salah. Sayangnya, kalau sudah merasa benar atau dianggap benar, maka sulit untuk mengakui salah dan apa yang salah pun dibenarkan. Mereka yang salah akan terus dicecar hingga seolah tidak akan pernah melakukan hal yang benar, sekalipun benar. Bak sinetron, bukti bahwa lebih banyak manusia yang primordial dan menjadi manusia penonton yang meyakini begitu saja apa yang dilihat dan tidak berpikir lebih jauh lagi. Hal ini menjadi kesempatan yang sangat besar bagi siapapun untuk terus melakukan pembodohan dan melakukan permainan politik tidak sehat yang merusak.

Ungkapan “Pemimpin adalah cerminan rakyatnya”, barangkali sulit untuk diterima meskipun ada di dalam Hadits dan Alquran. Rakyat cenderung selalu menyalahkan pemimpin atas semua masalah yang terjadi, tetapi terlalu pengecut untuk mau mengakui kesalahan-kesalahan sendiri yang sudah dibuat hingga memiliki pemimpin yang tidak sesuai dengan kehendak hati rakyat. Semestinya, bila memang meyakini apa yang tertulis dalam Hadits dan Alquran, maka tidak perlu takut mengakui salah, sehingga mau memperbaiki diri menjadi lebih baik agar mendapatkan pemimpin yang sesuai dan diharapkan. Lagipula, tidak akan ada perubahan yang lebih baik bila tidak dimulai dari diri sendiri. Lantas, mengapa begitu sulit untuk mengakui salah dan terus menyalahkan yang lain?!

Akibatnya, terlalu mudah untuk terus melakukan pembodohan, berbual janji, dan lagu-lagi kecewa. Politik bukan seperti sinetron yang mudah ditebak begitu saja berdasarkan isyu-isyu yang dilemparkan ke publik. Para pemain sirkus politik praktis saja bisa dengan mudahnya “menipu dengan bualan manis dan perilaku seolah pejuang pemberani, apalagi mereka yang benar-benar paham strategi politik dan politik yang sebenarnya. Apa yang nampak baik belum tentu baik, apa yang salah belum tentu salah.

Sebagai contoh adalah soal bagaimana sikap demonstran yang tidak memenuhi aturan, menolak bekerjasama, dan melakukan tindak kekerasan. Demonstrasi mungkin tidak memerlukan ijin, tetapi tetap diwajibkan memberikan pemberitahuan. Di dalam pemberitahuan, harus ada nama dan identitas yang jelas sebagai penanggungjawab. Bila terjadi sesuatu, yang mudah saja, kecelakaan atau pingsan di jalan, siapa yang bertanggung jawab?! Apalagi jika demonstrasi dilakukan oleh para mahasiswa, mereka memiliki keluarga yang berjuang dan berharap banyak dari pendidikan yang diberikan kepada anak mereka.

Jika menolak memberi tahu siapa yang bertanggung jawab, tidak mau memberikan identitas, lantas apakah polisi salah bila melarang dan menghentikan demonstrasi?! Ditambah dengan indikasi dan kecurigaan bahwa demonstrasi tersebut DITUNGGANGI oleh pihak-pihak yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tentunya akan terus disangkal, apakah salah bila dilakukan tindakan preventif?! Ini soal keamanan dan tanggung jawab, kebebasan pun ada batasnya. Tidak bisa seenaknya, dan ini berlaku untuk semua pihak tanpa kecuali. Siapa yang suka dengan perilaku semena-mena dan seenaknya?!

Kita sendiri pun di rumah, bila ada tamu yang datang tanpa diundang, lalu memaksa masuk, apalagi jika tidak dikenal, tentunya bisa sangat marah. Mengusir orang tersebut sebagai bagian dari proteksi dan menjaga diri serta seisi rumah, bukan sesuatu yang bisa dianggap salah. Tamu yang tidak tahu diri yang semestinya tahu diri. Tuan rumah yang sabar, patut diapresiasi bila masih mau menawarkan untuk mengantar pulang. Namun, bila kemudian tamu tersebut makin “melunjak”, bahkan sampai merusak barang milik kita, apa yang akan terjadi?!

Aneh bila kemudian tamu tersebut membuat laporan dan memviralkan video yang seolah-olah kita yang sudah berbuat jahat. Apalagi diberikan tambahan bumbu-bumbu seolah, mereka yang benar dan kita dibuat seolah benar kejam dan keji. Lebih aneh lagi bila kemudian apa yang dibuat ini benar-benar diyakini banyak orang yang tidak mau tahu kejadian sebenarnya. Apalagi oleh orang-orang yang sudah memiliki “dendam dan kebencian” terhadap kita sebelumnya, kesempatan untuk menghancurkan pun diambil. Mereka yang justru berniat jahat dan merusak menjadi pahlawan dan pemenang. Hebat, kan?!

Itulah contoh perilaku manusia penonton yang meyakini tontonan begitu saja sehingga tetap bodoh dan mudah dijadikan objek pembodohan. Terus dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang bahkan ingin merusak dan menghancurkan negeri. Sujud dan kerendahan hati tidak ada, dibuktikan dengan malas berpikir dan belajar. Asyik dan nyaman dengan tontonan, meyakini apa yang ditonton, dan senang menjadi tontonan (eksistensi). Dendam dipelihara dan sulit untuk menjadi objektif di dalam berpikir serta bersikap. Mau sampai kapan?!

Sedih rasanya melihat negeri hancur bahkan karena rakyat sendiri terlalu sombong dan malas belajar. Akal yang sehat dihiperbola meski berisi persepsi dan asumsi yang bisa mengakali dan dengan mudah merasionalisasikan apa yang salah menjadi benar dengan segala alasannya. Kebenaran yang berada di dalam hati diabaikan, merah putih, berani menyucikan diri hanya sekedar kata-kata untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok. Dogma dari mereka yang dipuja seolah tidak pernah salah diyakini melebihi dari kebenaran itu sendiri.

Bandung, 13 Maret 2021

Mariska Lubis

IMG 20210312 WA0034

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *