Ketika Saatnya Tiba

penanews.my.id

I. Akan Tiba Waktunya

Entah apa yang terjadi suara langit berkata
Tak akan ada yang mampu menjelajah areaku
Entah bagimana suara hatiku engkau tangkap
Tak mampu manusia menyentuhku
Hanya dirimu yang aku tunggu yang mampu menggapaiku.

Tiada henti suara ledakan akan menghancurkan seisinya
Tiada henti akan membawa malapetaka
Saat semua terlena semuanya akan datang tiba tiba
Kehendaknya akan tiba tak akan didengar manusia

Masih ingatkah manusia bisa terjadi malapetaka
Tiada yang berubah hanya seketika setelahnya kembali sediakala.
Sangat sedih melihat pola dan perilakumu
Aku sudah bosan melihat ulahmu merusak alam seisinya

Qolbumu kau bungkam sendiri seperti tak akan mati
Engkau ditertawakan alam, jeratan akan menghantuimu
Apakah engkau masih membungkam sepanjang masa
Tak melihat dihadapanmu sama membutuhkan seperti engkau.

Kalau engkau mendengar tertawanya, engkau akan tersungkur tak berdaya
Begitu rendah jasadmu, walaupun gagah perkasa
Tak berarti apa yang ada di dirimu, engkau akan disisihkan jauh dari semuanya
Jika engkau mendengar tertawanya yang pertama dan yang kedua dan seterusnya engkau akan bingung
Seperti manusia dungu lebih rendah dari hewan piaraanmu

II. Siapa Yang Tertawa Di Akhir Cerita?

Haaa..Haaaa.. jilatanmu tak akan mampu menembus Langit dan Surgaku
Engkau terselimuti bara api dan mengasap tiada henti
Engkau seenaknya dan habitatmu merebut hak ku.
Seenaknya engkau menguasai dengan kekar badanmu dan akal bulusmu
Engkau lupa semuanya akan ku tenggelamkan di dasar tanah yang engkau tidak kenal berada di mana

Haa..Haaa… lihatlah tanpa engkau sadari akan tidur tak nyenyak dan gelisah.
Engkau gelisah tak tahu apa didalam hatimu gelisah
Engkau hidup tapi engkau mati, engkau tertawa tapi engkau tidak tahu yang engkau tertawai
Engkau bicara tak tahu apa yang engkau bicarakan

Haaa..Haaa… kebingunganmu pertanda ajalmu mendekati alam maut
Jangan dianggap remeh tanda tanda alam menempel jasad manusia
Engkau buta hati tak mampu merasakan apa apa.
Hidup dan kehidupan terasa gagah tetapi lebih rendah dari hewan yang masih bermanfaat.
Engkau tak berguna, menunggu lubang kematian menantimu

Haa…Haaa… ayolah secepatnya panggilan diterompetkan
Kegoncangan qolbumu tak akan terbendung, dan tak akan berbuat apa apa.
Suaramu tak akan ada yang mendengar dan berarti
Suaramu tak akan didengar siapapun, oleh karena suaramu mati
Suaramu mati seperti bisu, walaupun mulutmu engkau suarakan Keras.

Haa..Haaa. ayo keraskan perilakumu, semakin keras kegoncangan akan menyertaimu
Engkau tak sadar dan menganggap benar, seribu kali langkah kelirumu membunuhmu.
Tak akan bisa dicegat desakan itu, terpaan secara halus mendesak sangat kuat tak mampu manusia berbuat.
Kejernihan sudah menghilang, keangkaramurkaan melekat pada jasadmu
Kelam hatimu merangsek tanpa terbendung dan tak mampu dihapus doa-doa walaupun seribu kali engkau ucapkan.

III. Sesal Pun Terlambat Hadir

Aku duduk diatas sana, disinggahanku dengan meneteskan air mata.
Air mata bukan air mata kegelisahan, kesediahan, kegundahan namun air mata kebahagiaan.
Bahagia karena peradaban akan mengalami perubahan.
Perubahan yang dinanti kawulo, yang merindukan perlindungan seutuhnya.
Perlindungan yang sejati yang dapat dirasakan di hati

Kelembutan air mataku, mengguncang ketidak adilan yang tidak adil pada sesamanya.
Kelembutan rambutku akan menyabet dengan jiwa jiwa yang batil.
Kelembutan kulitku akan menggores, jasad jasad keangkaramurkaan.
Belaian tanganku akan membawa dan melemparkan sejauh kehendak hatiku.
Suaraku akan menggiring keangkaramurkaan semakin cepat ditenggelamkan

Penyatuan kehalusanku seutuhnya meluluhlantakkan jiwa-jiwa sesat.
Jiwa-jiwa sesat tergiring oleh hatinya sendiri di bawa ke alam kegelapan.
Alam kegelapan gelap tampa secercah sinar mengiringinya
Hanya sinarku yang mampu memberi penerangnya

Saatnya alam kegelapan merenggutnya membawanya tanpa ampunannya.
Tidak ada lagi yang dapat menghentikan, karena sudah digariskan
Rengekan hati keluar dari mulutnya sudah tidak berarti
Waktunya sudah tampa jedah sedetikpun akan membumi hanguskan.
Lelehan jasad memberi aroma bangkai tak tertahankan siapa yang menghirupnya
Hanya yang terpilih dan dipilih bau bangkai akan menyisih

Hiruplah sepuasmu rasakan kenikmatan bau bangkai yang tak terelakkan
Saatnya tidak bisa dihindari walau engkau tutup dengan rapatnya.
Engkau lumuri bau wewangian seribu wewangian tidak mampu membendungnya.
Engkau tersedak dengan bau bangkai menusuk jiwamu, sekalian pergi tanpa menghadap siapa siapa
Yang engkau hadapi kegelapan, api menyala nyala menyambutmu.

Karya : Yudi E. Handoyo

Pewarta : Mariska Lubis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *