Biak Numfor, Penanews.net — Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua resmi membuka Munara Fan Nanggi, sebuah ritual adat dan kuliner sakral yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Budaya Byak Melanesia 2026.
Acara tersebut berlangsung di Jalan Imam Bonjol Biak Numfor, pada Minggu (18/10/2026). Untuk diketahui, Gelaran ini menjadi wujud syukur atas berkat Tuhan sekaligus komitmen pelestarian kearifan lokal masyarakat adat Biak.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini sukses menyedot perhatian masif. Jalan Imam Bonjol dipadati oleh puluhan ribu manusia yang antusias menyaksikan ritual memberi persembahan kepada Sang Pencipta.
Kemeriahan acara ini turut disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat penting dan perwakilan negara sahabat. Antara lain: Duta Besar Seychelles untuk Indonesia, Nico Barito. Perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Perwakilan Kementerian Kebudayaan RI. Perwakilan negara sahabat dari Papua New Guinea. Bupati Biak Numfor Markus Oktovianus Mansnembra. Wakil Bupati Biak Numfor Jimmy CR Kapissa. Pimpinan DPRK Biak Numfor, kepala OPD, dan Forkompimda.

Pada kesempatan tersebut Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra., S.H., M.M., menegaskan bahwa Munara Fan Nanggi merupakan sarana efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya Biak ke panggung dunia.
“Atas nama pemerintah daerah kabupaten Biak Numfor, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi untuk semua pihak yang sudah berpartisipasi bersama-sama melaksanakan dan mensukseskan acara hari ini. Munara Fan Nanggi merupakan sarana efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya kita ke panggung dunia,” ujar Bupati Markus Mansnembra.
Sementara itu, Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy CR Kapissa., S.H., memaparkan makna mendalam di balik ritual Fan Nanggi. Ritual Fan Nanggi merupakan simbol membawa hasil bumi dan hasil laut kepada Sang Pencipta.
“Fan adalah makanan, memberi makan, sedangkan Nanggi adalah Surga, konon suku biak percaya bahwa Nanggi itu kerajaan Allah sang pencipta yang berada jauh diatas langit. Orang Biak membawa rempah-rempah hasil kebun dan hasil laut mereka, mereka persembahkan dahulu kepada Allah langit Maka Tuhan akan memberkati bangsanya. Ini adalah kebangkitan budaya Suku Biak,” jelas Wabup Jimmy Kapisa.
Melalui rentetan kegiatan ini, pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk menjadikan Biak sebagai kota budaya sekaligus hubungan pariwisata bertaraf internasional.

Suasana di lokasi makin hangat dengan adanya pesta makan gratis yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Senyum sumringah terpancar dari wajah ribuan masyarakat lokal maupun turis yang hadir.
“Saya baru pertama kali datang ke Biak, dan jujur saya merinding sekaligus terharu melihat bagaimana seluruh masyarakat di sini bersatu. Budayanya sangat indah, dan keramahan orang Biak ditambah makan bersama ini membuat kami merasa seperti di rumah sendiri,” ungkap Nur, seorang wisatawan asal Jakarta.
Kebahagiaan senada juga diungkapkan oleh warga lokal, Mama Merry. “Hari ini luar biasa sekali, hati kami penuh suka cita. Anak-anak bisa melihat langsung tradisi leluhur mereka, dan kami bisa makan bersama dengan tamu-tamu dari luar negeri,” tuturnya.
Kemeriahan sore itu ditutup dengan momen makan bersama. Tradisi ini menjadi simbol abadi dari kasih, kesetaraan, dan persaudaraan yang kokoh.
Pemerintah setempat pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat adat dan seni, guna memastikan Biak tetap menjadi zona damai sekaligus tujuan wisata budaya bertaraf dunia.










