Mencegah Jadi Bangsa yang Gagal

ARTIKEL

MENCEGAH JADI BANGSA YANG GAGAL

gambar2 bangsa yang gagal

Foto : Pixabay.com

Oleh : Mariska Lubis

Kita dicekoki pembodohan terlalu lama oleh intelijen, termasuk lewat jurnalisme kuning yang terus saja diterapkan dan berhasil bagi masyarakat penonton (audience people) – masyarakat yang percaya dengan tontonan, senang menonton dan menjadi tontonan. Sudah saya peringatkan bertahun-tahun lalu, untuk tidak terpengaruh dengan buzzer pun sulit, malah terus saja diviralkan ucapan mereka.

Sinetron sebagai contoh, terus saja ditonton, dan ini disadari, diakui atau tidak, membuat orang kehilangan kebijaksanaan, orang kalau sudah salah maka tidak akan pernah benar. Orang yang baik dan sabar pasti bodoh kebangetan.

Debat menjadi konsumsi yang paling disukai, ini pun didorong oleh media terutama media televisi. Secara psikologis mempengaruhi, sehingga masyarakat terbiasa debat bukan diskusi/musyawarah mencari solusi.

Kita krisis kebersamaan, krisis pemimpin, krisis kemampuan analisa yang utuh, krisis parah kemampuan mencari solusi dan membuat strategi. Masalah-masalah hanya diselesaikan dengan masalah baru. Perubahan diinginkan namun berubah ditakuti, dan perubahan Itu sendiri sangat ditakutkan.

Contoh seperti soal politik, yang sebenarnya terkait dengan ekonomi, dan ekonomi yang erat kaitannya dengan teknologi. Bicara soal revolusi industri 4.0 namun mengerti pun tidak soal ini secara mendalam. Lantas mau bagaimana?!

Kemampuan menulis sastra yang diam-diam dihilangkan pun tidak disadari. Meski kita semua belajar bagaimana Umar bin Khattab meminta kita mengajarkan sastra agar anak-anak Kita menjadi pemberani dan berjuang di jalan kebenaran.

Kita bisa menunggu perubahan terjadi, atau membuat dan menjadi pelaku perubahan. Saya bukan Ulama dan ahli kitab/agama, namun saya belajar dari Rasululllah di dalam manajemen termasuk peperangan :

  1. Ada pemimpin yang berani di depan.
  2. Ada pemikir/pencatat yang ikhlas (cendekiawan)
  3. Ada yang mau bekerja secara ikhlas.
  4. Ada yang bersedia membantu dana secara ikhlas.

Jika pun mau mengacu kepada banyaknya nasehat dan ajaran dalam Al Quran, yang banyak berisi ilmu intelijen, seperti Surah Al Kahfi, maka ada beberapa hal penting yang harus kita miliki dalam berperang:

  1. Analisa dan kajian masalah secara utuh.
  2. Strategi termasuk strategi kapan bicara, kapan diam, dengan siapa kita bicara dan siapa yang tidak perlu.
  3. Saling percaya dan ikhlas, kebersamaan.
  4. Logistik, bukan hanya makanan tetapi sarana/alat dalam berperang, seperti alat sadap.

Ini hanya sekedar saran kecil di tengah banyaknya kemarahan dan frustasi. Semoga berguna bermanfaat.

 

ML 1.jpg

Mariska Lubis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *