Pemabuk: “Dengan Mabuk Uang Masuk!”

Oleh: Mariska Lubis

Enak juga bila dipikir-pikir, tidak perlu susah untuk mendapatkan uang. Cukup mabuk saja maka uang bisa masuk ke dalam kas alias kantong. Untuk apa selama ini banyak yang repot-repot sampai setengah mati bekerja menangkap dan membasmi para pemabuk? Dana anggaran yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Biarkan saja para pemabuk berkeliaran, bisa menghasilkan uang, kok! Untuk apa pikirkan masa depan, yang penting sekarang ada uang!!!

Tidak perlu malu dan naif juga, banyak yang suka meminum minuman keras meski diam-diam. Bukan sesuatu yang kemudian harus ditutupi, apalagi saat ini. Jaman sudah berubah, kalau dulu dilarang keras, sekarang boleh bebas-bebas saja. Siapa yang mau menangkap bila investasi Miras pun dilegalkan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tentunya Juga menjadi pasar yang potensial.

Soal halal dan haram, pahala dan dosa sudah tidak lagi mempan. Keadaan sosial politik dan ekonomi yang membuat stress banyak kepala, terutama bagi yang berpikir bahwa hidup hanya bisa berjalan bila ada uang, maka apapun bisa dilakukan. Lupa bahwa banyak uang pun, orang bisa mati! Mabuk dijadikan alasan untuk bisa menenangkan diri dan melepas stress, padahal bikin sakit kepala juga akhirnya. Entah bagi yang memproduksi dan menjual, tentunya senang-senang saja.

Pemabuk yang senang bergaya tentunya sangat bangga, malah semakin mabuk. Sementara bagi banyak pemabuk original dan professional, pemabuk banyak gaya ini kelasnya “Kelas Kambing”, dan tidak diakui setara. Terlalu banyak pamer, seperti orang yang baru kaya dan baru “bandel” saja. Pamer terus biar kelihatan hebat padahal norak! Memang kelihatan kelasnya, sih! Segitu saja!!!

Yah mungkin seperti apa yang diramalkan oleh Ronggo Warsito, “Wong Edan, Jaman Edan” Itu benar adanya. Sekarang menjadi orang waras semakin sulit, lebih mudah menjadi pemabuk untuk bertahan hidup. Pemikiran “Gila” yang dianggap radikal dan bertentangan, bisa masuk penjara, sementara pemikiran “Pemabuk” boleh bebas seenaknya. Uang dijadikan patokan dalam hidup, anak cucu pun diabaikan, seolah nasib anak cucu bisa selamat bila punya uang banyak dan kekuasaan.

Selamat untuk para pemabuk! Kaya uang miskin hati dan pemikiran sudah setara dengan keledai durjana di negeri Pinokio. Aturan dicabut tapi Ombus-Ombus yang bukan makanan tapi aturan mencekik berlaku, sama saja bohong! Cheers!

Bandung, 2 Maret 2021

fotomariska4 02

Mariska Lubis

Ilustrasi : pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *