Pengemudi Transportasi Online Dihantui “Pemiskinan” Akibat Perang Harga (Predatory Price)

Boim / Fahry

Bogor. penanews.net _ Jawa Barat. Sejumlah pengemudi mobil online akhir – akhir ini tengah dihantui potensi pemiskinan akibat adanya penurunan pendapatan di sebabkan turunnya harga ongkos yang ditetapkan aplikasi online.

Budi (35) seorang pengemudi transportasi online mengatakan, sudah beberapa minggu ini dirinya tidak mendapatkan penghasilan sepadan akibat adanya penurunan drastis ongkos harga sewa mobil.

“Sangat merugikan bagi kami para sopir mobil online, meskipun di sisi lain penumpang diuntungkan. Buat pembelian bahan bakar saja kami sudah kesulitan.Dikarenakan harga argo dalam aplikasi turun drastis,” kata Budi, Minggu (9/6/2024).

Fenomena perang harga dalam bisnis tranportasi online tersebut ditanggapi serius Direktur Koperasi Gardan Raya Bersatu (Grabers), Muhamad Hamdan.

“Saya menyebutnya sebagai predatory price yang terjadi dalam industri ride hailing. Hal ini bisa merusak iklim persaingan usaha yang sehat. Dan yang pasti jelas merugikan mitra pengemudi,” ujar M. Ramdan.

Beberapa hari belakangan ini. lanjutnya, ada sejumlah laporan yang diterimanya dari para driver yang mengemukakan bahwa saat ini tengah berlangsung penurunan harga biaya argo yang drastis.

“Indikasinya banyak para driver online melaporkan bahwa saat ini tidak biasanya harga argo yang seharusnya 35,000 turun drastis menjadi 14,000 untuk tujuan yang sama yang diketahui dari jumlah kilometer perjalanan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, predatory price dampaknya sangat merugikan driver alias mitra pengemudi sebab di saat melakukan pengantaran sekitar 7,6 kilometer, pengemudi hanya dibayar 14 ribu rupiah dan ditambah potongan sebesar Rp. 7,000.

“Artinya pendapatan seorang driver hanya sebesar seribu rupiah per kilometer. Ini tentu sangat tidak sehat. Sebab mitra pengemudi atau driver online juga banyak yang punya kewajiban membayar cicilan kendaraan,” cetusnya.

Ia melanjutkan, kondisi para driver online makin terjepit sebab harus ditambah lagi dengan pengeluaran biaya operasional untuk membeli bahan bakar kendaraan yang biasanya rata-rata antara Rp. 790 sampai Ro. 1.200 per kilometer.

“Jika uang yang diterima sebagai penghasilan saja dibawah harga bahan bakar, tentunya ini sudah keterlaluan dan merugikan,” cetus
Kang Dadan, sapaan karibnya.

Pria yang mantan aktivis UI 98 ini menjelaskan, praktek predatory price ini sepertinya dilakukan oleh dua perusahaan besar Industri transportasi online saat ini.

“Entah apa sebabnya yang jelas bagi para mitra atau driver online ini sangat merugikan sekali. Saya berharap KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) bisa segera turun tangan,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, mengetahui hal tersebut karena ada banyak kawan-kawan driver online yang mengirimkan screenshot transaksi mereka ada juga yang berupa foto hasil foto. Mereka mengeluhkan situasi yang belakangan terjadi dikalangan para driver ini.

Bahkan lanjut Kang Dadang, soal predatory price ini telah dibuktikan sendiri saat dirinya sengaja turun langsung ke lapangan. Dijelaskan,
untuk penyelesaian jarak tempuh mencapai 16 kilometer argo yang tertera hanya 23. 000 rupiah.

“Bahkan si penumpang nya sendiri hampir tidak percaya sebab ketika mengorder awal hanya Rp. 16.000 langsung dia cancel sendiri karena takut alamat yang dituju salah,” imbuhnya.

Bahkan justeru pemakai jasa transportasi online itu sendiri yang mengungkapkan pada pengemudi online bahwa biasanya untuk jarak tempuh itu dengan menggunakan kendaraan roda 4, biasanya harus membayar Rp. 45,000 hingga Rp. 50,000.

“Si penumpang ini mengaku kaget sebab baru kali ini harga ongkos nya turun jauh. Jadi informasi soal terjadinya predatory price ini bukan hanya dari para driver tapi juga diinformasikan sendiri customer nya,” papar Kang Dadan.

Ditegaskan, kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian semua stakeholder termasuk juga KPPU untuk segera turun guna mendapatkan informasi tentang terjadinya Ppredatory price tersebut.

Kang Dadan menegaskan, jika hal ini dibiarkan, maka sudah pasti akan merugikan semua pihak. Dan dalam jangka panjang bisa akan mematikan industri transportasi online ini.

“Sebab para pengemudi akan terus mengalami kerugian. Jangankan membayar sewa kendaraan, sebab untuk membeli bahan bakar saja sudah kesulitan. “Pemiskinan” ini tentunya akan menyulitkan mitra pengemudi untuk bertahan usaha nya,” tukas Kang Dadan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *