Penyakit Hati, Hasad.

penanews.net _ Sejenak Pagi, Mengetahuipengertian hasad akan menghindarkan seseorang melakukan perbuatan tercela. Menurut para jumhur ulama, hasad adalah dengki, dengan menginginkan nikmat orang lain hilang.

Mayoritas pendapat mengatakan, hasad adalah akhlak tercela yang amat dibenci oleh Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya.
Meski sebagian lagi ada yang membolehkan, tetapi dalam hal agama dan akhirat untuk memperoleh keridaan Alloh Ta’ala saja.

Menengok di kehidupan nyata, dengki atau hasad adalah sudah kerap dilakukan oleh manusia, disadari atau tidak. Dampaknya pun tidak hanya untuk kehidupan akhirat, tetapi kegelisahan hati di dunia setelah melakukannya.

Secara epistimologis, hasad adalah keadaan hati seseorang yang tidak mensyukuri nikmat dan membenci kebahagiaan orang lain. Singkatnya, hasad adalah sifat dengki. Dengki terhadap segala yang menimpanya dan menimpa orang lain disekitarnya.

Menurut jumhur ulama Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hasad adalah ketika seseorang menginginkan nikmat orang lain hilang.
Nikmat ini berupa kedudukan, ilmu, harta, dan masih banyak lagi.

Hasad adalah sifat yang konon katanya manusiawi. Meski sebenarnya, Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya tidak menyukai manusia yang berlaku hasad. Entah itu kepada diri sendiri atau orang lain. Terutama hasad yang berkaitan dengan duniawi, seperti harta kekayaan.

Menurut beberapa pendapat, ada hasad yang diperbolehkan. Hasad ini berkaitan dengan urusan agama dan akhirat.
Dengki yang seperti ini akan membuat seseorang berupaya terus mendekatkan diri pada Alloh Ta’ala.

Tentu hal ini baik dan bukan bagian dari kompetisi kemenangan dan kekalahan.
Dengki dalam urusan agama dan akhirat akan membuat manusia mencari keridhoan Alloh Ta’ala, bukan pujian semata. Keridhoan inilah yang nantinya akan mengantarkan seseorang lebih bersyukur atas segala yang dipunya.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang.”
(HR. Bukhari-Muslim)

Sumber : sejenakpagi.official

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *