Perbanyaklah Mengingat Kematian

penanews.net _Surabaya, Jawa Timur- Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat-ingat si pemutus segala macam kelezatan/kenikmatan, yaitu Al-Maut (kematian).

(HR *Ibnu Majah* no. 4258, *At-Tirmidzi, An-Nasai, Imam Ahmad* dan lain-lain, sanadnya shohih].

Dalam riwayat *Ath-Thabrani dan Al-Hakim* terdapat tambahan :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
“Perbanyaklah mengingat-ingat si pemutus segala macam kelezatan/kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (dengan mengingat kematian itu) akan melonggarkan kesempitan hidupnya. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu lapang (kehidupannya), kecuali (dengan mengingat kematian itu) akan menyempitkan keluasan hidupnya.”_

[Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam *Shahih Al-Jami’ush Shaghir*, no. 1222, dan *Shahih At-Targhib wat Tarhib,* no. 3333].

Faedah/Pelajaran Penting dari Hadits ini :

1. Anjuran bagi kita semuanya untuk memperbanyak mengingat-ingat kematian.

2. Bahwa kematian itu adalah perkara yang akan memisahkan seseorang dari segala macam kesenangan dan kenikmatan dalam kehidupan di dunia.

3. Dalam hadits yang lainnya disebutkan, bahwa, orang yang banyak mengingat kematian itu adalah orang yang benar-benar cerdas.

Hal itu karena, orang yang banyak mengingat kematian itu akan *lebih banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupannya setelah matinya nanti,* yaitu : dengan iman yang shohih (benar), tauhid yang kholish (murni dari segala macam kesyirikan), amal-amal yang sholih (yakni yang sesuai dengan tuntunan syari’at), dan dengan landasan niat yang ikhlas dalam beramal.

Itulah orang-orang yang paling berakal atau paling cerdas yang sebenarnya, Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih berikut ini :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Dari Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma, dia berkata :

“Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya : “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang mukmin yang paling utama itu ?”

Beliau menjawab : “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka !”

Dia bertanya lagi: “Siapakah orang mukmin yang paling cerdik/cerdas itu ?”

Beliau menjawab : *”Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian (yakni paling banyak bekalnya untuk menghadapi kehidupan setelah mati nanti, yang berupa amal-amal sholih, pent.). Mereka itulah orang-orang yang cerdik.”

[HR *Ibnu Majah*, no. 4.259. Hadits ini derajatnya hasan, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Ash Shohihah, no. 1384].

4. Maka hendaknya kita menjadi orang-orang yang banyak mengingat kematian.

Hal itu bisa kita lakukan dengan berbagai cara yang memungkinkan bagi kita untuk selalu mengingat kematian. Misalnya adalah : Dengan mengurus jenasah salah seorang Muslim yang meninggal dunia.

Dengan menghadiri musibah kematian yang menimpa kepada salah seorang saudara kita yang Muslim, dan mengiringi jenasah tersebut hingga mengantarkannya di kuburannya (jika mampu dan tidak halangan). Dengan berziarah kubur.

Dengan menjenguk orang-orang yang sakit yang sangat parah, yang mungkin akan meninggal dunia.

Dengan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shollallohu allaihi wa sallam, khususnya yang membahas dan menceritakan tentang peristiwa kematian dan kejadian yang dialami sesudahnya di alam kubur ataupun si akhirat nanti.

Semuanya itu dengan tujuan, agar kita bisa mengambil pelajaran terhadap peristiwa kematian yang saat itu dialami oleh orang lain. Karena boleh jadi sebentar lagi giliran kita untuk menyusulnya. Sehingga dengan itu, diharapkan kita bisa mempersiapkan bekal sebanyak mungkin, agar kita telah siap menghadapi peristiwa kematian yang akan menimpa kita.

Dan kepada kita semuanya yang saat ini mempunyai tugas mulia menjadi seorang “modin kematian,” (yang khusus bertugas merawat jenasah kaum Muslimin), alhamdulillah, hendaknya kita bersyukur, karena inilah kesempatan kita untuk mengambil pelajaran dengan banyak menyaksikan berbagai peristiwa kematian dan keadaan orang-orang yang mengalami kematian itu.

Sepantasnya kita menjadi orang-orang yang semakin dekat kepada Alloh, dengan memperbanyak ibadah dan amal-amal ketaatan, dan semakin khusyu dalam beribadah kepada Alloh.
Bukan justru menjadi orang-orang yang lalai, dan terlena dengan urusan dunia yang sesaat ini saja !

Demikianlah tulisan yang ringkas dan sederhana ini, semoga bisa menjadi nasehat yang bermanfaat bagi kita semuanya

Barokallohu fiikum

Penulis : Abu Abdurrohman Yoyok WN
(RW 05 Kel. Manukan Kulon Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *