SURAT BUTA UNTUK PELEMPAR BATU

Hiliweto, 8 November 1987

Maria ungkap sebuah cerita, “Di tengah penghakiman, aku bersikeras bahwa aku tidak hamil. Mose berkata ‘Mana ada seorang pezina mengaku? Bidan dan dukun beranak menyatakan bahwa kau hamil di luar nikah. Apa yang harus kau sangkal? Seharusnya kau bersyukur karena kami tidak akan menjatuhkan hukuman mati”.
Maria ambil jeda, lalu lanjut bercerita “Aku meminta pembelaan kepada Adel, tapi dia hanya mengangkat bahu.

Aku berkata ‘Aku mengaku bahwa aku bukan orang suci. Tapi, aku adalah orang yang jujur, ya, karena suatu saat nanti, apabila benar bahwa aku sedang hamil, maka ketika anak haram itu lahir ke dunia ini, aku akan jujur bahwa ayahnya adalah manusia, bukan Tuhan,” hening, Maria berhenti cerita.
Maria tersenyum frustasi, ia mengambil jeda dalam beberapa detik, “Mose menjadi orang pertama yang melemparkan batu ke tubuh ini,” jeda lagi.

Aku tatap wajah Maria di ujung ruangan, pipinya sedikit bengkak. “Batu itu mengenai wajahmu?” tanyaku, Maria menggelengkan kepala. Sambil membuang puntung rokok, aku beranjak mendekati Maria. “Pipimu bengkak,” lanjutku.
“Ayah menamparku. Aku membela bahwa aku tidak hamil, tiga hari yang lalu pun masih datang bulan. Dia terus menanyakan siapa yang telah menghamiliku. Semakin lama mulut ini tidak menjawab, maka semakin keras juga pukulannya, hingga akhirnya…”
“Kau menjawab bahwa aku adalah orang yang telah menghamilimu. Lalu, ayahmu marah besar dan menebang pohon di depan rumah ibuku. Setelah itu, keluargaku diusir dari kampung…”
“Keluargaku juga! Apa kau lupa bahwa surat buta selalu berakhir dengan buruk? Kita dalam kehancuran yang sama,” Maria memotong ucapanku.

Kali ini, keheningan berdurasi cukup panjang. Angin hujan menyelinap dari celah jendela, Maria melipat tangannya di dada, mungkin kedinginan. Aku menghela napas, merogoh kantong, sebatang rokok diselipkan di bibir, nyalakan korek, merokok lagi, “Pertanyaannya, mengapa kau mengaku bahwa aku adalah orang yang menghamilimu?”
“Karena kita memang telah melakukannya,”
“Tapi tidak sampai membuatmu hamil!” kuhentak meja, amarah meluap.
“Kau seharusnya menghiburku, bukan memojokkanku. Mengapa kau tidak membunuhku saja atau melempariku dengan gunung batu? Aku lebih memilih mati ketimbang dicerca oleh semua orang,” ada air di ujung mata Maria. Aku luluh, tidak enak merokok, maka kusungkurkan rokok ke asbak.
“Tunggu, aku rasa ada yang tidak beres atas semua ini. Surat buta itu salah sasaran. Kau bilang, kau meminta pembelaan kepada Adel, siapa dia?”
“Adeltera, dia sahabatku. Ya, Adel adalah bidan yang melakukan pemeriksaan massal,”
“Ke mana Yohana?”
“Yohana telah mati,”
“Kau bercanda?” tanyaku untuk kepastian.
“Lama di Medan membuatmu tidak tahu kabar berita. Bidan Yohana meninggal pada bulan Juli lalu. Adel-lah yang kini menjadi bidan,”
“Ceritakan kejadian setelah Yohana meninggal,”
“Setelah Yohana meninggal, warga kesulitan untuk mencari bidan terdekat. Oleh karena itu, warga meminta Salawa untuk mencari bidan pengganti. Salawa pun memerintahkan Mose untuk mencari bidan baru. Kebetulan, saat itu Adel baru menyelesaikan studi-nya, tapi ia belum mendapatkan pekerjaan, maka aku memberikan saran kepada Mose agar Adel-lah yang dijadikan bidan. Beberapa hari kemudian, Adel datang. Sejak saat itu, Adel menetap di samping rumahku.

Suatu hari, hujan turun sangat lebat. Setelah kucermati, itu adalah hujan normal yang terakhir. Saat waktu menunjukkan tengah malam, suasana begitu senyap. Tiba-tiba Adel berteriak, aku bangun, ayah juga. Ternyata, Adel didatangi orang tak dikenal. Beruntung, saat Adel berteriak, orang itu langsung kabur dan Adel baik-baik saja.
Sejak malam itu, Adel mengaku ketakutan.

Oleh karena itu, Salawa mengumpulkan tetua adat lainnya untuk bermusyawarah. Mereka sepakat untuk mengadakan jadwal ronda dengan pos di kediaman Adel. Maka setiap malam, bapak-bapak bergiliran ronda. Tapi, semakin berjalannya waktu, petugas ronda semakin sedikit dan hampir tidak ada. Hanya satu pria yang masih bertahan, dia Mose. Ya, setiap malam Mose masih datang untuk menjaga Adel.

Aku juga ingat bahwa Mose ingin membuatkan tempat praktik yang lebih besar untuk Adel. Oleh karena itu, Mose ingin membeli rumah ayah. Tentu, ayah menolak tawaran Mose. Ternyata, Mose tidak menyerah, berkali-kali ia datang ke rumah untuk menaikkan tawaran. Mose juga beralasan bahwa lokasi rumah ayahlah yang lebih cocok untuk digunakan sebagai tempat praktik medis. Ayah tetap menolak alasan itu, akhirnya Mose menyerah.
Dua bulan belakangan, Hiliweto tidak pernah disapa oleh hujan yang normal.

Seperti yang kau tahu, hujan di sini hanya gerimis, sementara di tempat lainnya hujan begitu lebat. Setiap hari, Hiliweto diselimuti awan tebal, gelap, angin kencang, tapi hujan tetap gerimis. Tanda-tanda aneh itu sudah muncul berkali-kali, berkali-kali! Tentu, ibu-ibu sudah berpikir tentang perawan siapa yang hamil di luar nikah sehingga awan enggan menangis deras di Hiliweto.

Pagi yang murung, di rumah Salawa, Gereja, Hele Zato, bahkan di rumah warga sudah tersebar surat anonim yang berisi pernyataan bahwa takutnya hujan turun di Hiliweto tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh adanya perawan yang hamil di luar nikah. Surat itu sudah cukup membuat gaduh. Seperti biasa, jika muncul kegaduhan seperti itu, Salawa mengumpulkan tetua adat lainnya untuk bermusyawarah. Hingga akhirnya, mereka sepakat untuk melakukan pemeriksaan massal,” Maria terdiam sejenak.
“Lalu, Adel memeriksa perutmu?”
“Tentu, dan dia mengatakan bahwa aku-lah perawan yang hamil di luar nikah itu!”
“Dia salah! Mengapa kita tidak periksa ke bidan lainnya untuk membuat pembelaan bahwa kau memang benar-benar tidak hamil?”

“Warga tidak akan percaya,” Maria menghela napas berat, “Kau tahu? Kini, aku tidak pernah berharap Tuhan mengampuni dosaku. Aku hanya berharap Tuhan mempersilakanku pergi.” ucapan itu menjadi kalimat penutup dan kalimat terakhir dari Maria karena keesokan harinya, tubuh indah itu sudah kaku berlumur darah, ya, ia memotong urat nadinya. Setelah Maria meninggal, keluarganya pindah dari Hiliweto dan ayah Maria menjual rumahnya kepada Mose dengan harga murah.

Medan, 2 Mei 1997

Seorang lelaki keluar dari gerbang kelurahan. Aku tahu, dia adalah Mose, si pelempar batu pertama. Tapi, Mose tidak mengenaliku. Oleh karena itu, aku mengabaikannya dan masuk ke kantor.
“Pak, ada yang meminta surat izin tinggal,” ucap sekretarisku.
“Pindahan?”
“Iya. Berkasnya di meja bapak,”
“Baiklah, terima kasih,” ucapku sambil berjalan menuju meja, terduduk dan membuka berkas. Benar saja, Mose-lah orang baru yang hendak meminta surat izin tinggal. Kulihat data yang tertera di Kartu Keluarga, nampaknya Mose sudah menikahi Adel dan mereka memiliki anak. Anak! Ya, anak! Kulihat data anak pertama. Anak itu lahir bulan Mei tahun 1988. Aku mengumpat di dalam hati.

 

IMG 20210923 WA0050
Fendi Franklin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *