TERLALU MENDALAMI AGAMA BERDAMPAK PENYIMPANGAN?

 

Bandung penanews.net Jawa Barat- Ada jenderal yang berujar bahwa, “Jangan Terlalu Mendalam Belajar Agama.” Dampak terlalu dalam mempelajari agama menurut sang Jendera adalah terjadi penyimpangan. Ada yang menyimpang dari ungkapan ini bahwa seharusnya justru ketika umat islam belajar agamanya tidak mendalam alias dangkal itulah yang berpeluang melakukan tindakan penyimpangan. Sebaliknya jika belajar agamanya mendalam seseorang akan memahami maksud agamanya seperti apa dan akan terhindar dari penyimpangan.

Jalan pikiran sang Jendera sudah sangat diapahami bahwa beliau akan mengatakan bahwa belajar Islam terlalu mendalam akan melahirkan orang-orang yang menyimpang. Itu juga artinya menuduh kepada agama Islam itu sendiri, penyebab penyimpangan seseorang jika dipelajari teralalu mendalam.

Sebenarnya jika kita melihat mendalam faktanya siapa sih yang sudah menyimpang akibat dari belajar Islam terlalu mendalam ? Ke siapa telunjuk ditujukan ? Anggaplah pelaku penyimpangan itu adalah para koruptor, atau pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi baru-baru ini, atau kakek-kakek yang melakukan kekerasa terhadap anak. Atau mungkin para OPM yang selalu berusaha memerdekakan diri, atau para pejabat yang merelakan SDA dirampok para Kapitalisme asing ? atau yang mana ? Adakah mereka itu karena belajar islam ? trus mendalam pula ? Tentu tidak. Justru bisa jadi karena belajar Islam mereka terlalu dangkal sehingga banyak penyimpangan.

FB IMG 1639050866592

Walau ungkapan ini sudah diralat, katanya yang dimaksud adalah belajar Islam kepada seorang pendampingan ahlinya. “Dampak terlalu mendalam mempelajari agama, tanpa adanya guru atau ustaz pembimbing yang ahli dalam ilmunya, lama-lama akan terjadi penyimpangan. Itulah maksud yang disampaikan KSAD,” kata Tatang seperti dikutip dari siaran pers diterima, Senin (6/12/2021).

Meski ralatan ini terkesan tidak nyambung seakan bukan meralat tapi menutupi kesalahan dan berdalih, tapi tidak mengapalah setidaknya kita tidak dilarang belajar agama kepada ulama karena ulama adalah ahli ilmu, pemilik ilmu. Namun inipun sangat ambigu karena ulama kita yang benar-benar mengajarkan kita tentang agama secara mendalam, yang tidak hanya agama ruhiyyah tapi juga agama aspek politik, agama yang mengajarkan tentang khilafah sebagai institusi politik dalam menegakkan syariah Islam ternyata mereka perangi. Kita ragu sih dalih sang jenderal ini.

Dalam meraih ilmu dalam metode belajar Islam, seseorang harus mendapatkannya dengan mendalam tidak boleh dangkal dan itu harus melalui proses talaqqiyan fikriyyan sebagai metode belajar bagi pencinta ilmu. Setidaknya ada tiga point penting dalam proses talaqqiy :

1. Ilmu harus dipelajari secara mendalam hingga dipahami hakikatnya dengan pemahaman yang benar.

Tsaqafah Islam bersifat fikriyah, mengakar, mendalam, memerlukan kesabaran serta keteguhan dalam mempelajarinya.

2. Ilmu yang dipelajari harus diyakini agar ia bisa beraktivitas dengannya.

Jika berkaitan dengan aqidah maka ia harus meyakini apa yang dipelajarinya dengan keyakinan yang pasti tanpa boleh ada keraguan sedikitpun.Jika yang dipelajari tidak berkaitan dengan aqidah maka berdasarkan ghalabatu adz dzan (dugaan kuat) yang sesuai dengan fakta.

3. Ilmu untuk diamalkan.

Dalam mempelajari sesuatu harus bersifat praktis, bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai solusi atas berbagai problematika umat. Bulan sekedar teoritis yg pada hakikatnya tidak bisa digunakan untuk memecahkan masalah dan merubah fakta yang bisa diindera.

Sejatinya belajar Islam itu harus mendalam, kalau ada kata terlalu sebenarnya nggak ada ukurannya. Sebab siapapun belajar ilmu sampai seharian bahkan tidur hanya 3 jam atau tidak tidur dalam rangka meneliti sebuah hadistatau ayat dalam tafsir Alquran tetap dinilai benar meskipun terlalu. Penyimpangan berpikir lalu berlanjut pada penyimpangan amal tidak diukur seseorang itu dari belajar agama terlalu mendalam. Tapi diukur dengan landasan berpikirnya, jika landasan akidah Islam maka tetap pemikiran yang dibangun akan benar, tapi jika landasannya liberal maka pemikirannya akan menyimpang.
Wallahu A’lam Bish-showab

Oleh : Yanti Tanjung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *