Biak Numfor, penanews.net _ Papua. Di bawah hangatnya mentari sore, derap langkah ramah jajaran Pemerintah Daerah melalui Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun, S.Pi., M.Si., hadir langsung di tengah Lapangan Cenderawasih pada Senin (29/06/2026) pukul 15:00 WIT.
Kehadiran fisik Pemda di lapangan ini bertujuan untuk mematangkan kesiapan hati dan infrastruktur menjelang pembukaan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026, Rabu (01/07/2026) lusa.
Langkah ini bukan sekadar pengecekan teknis. Ini adalah wujud komitmen nyata dalam merajut harmoni persaudaraan antarkabupaten di Tanah Papua sekaligus membentangkan karpet merah keramahan khas Biak untuk menyambut kedatangan jajaran kementerian pusat dan lima negara sahabat di beranda Pasifik.
Dalam peninjauan tersebut, Kadispar mengonfirmasi bahwa FBMW tahun ini akan mencetak sejarah baru dengan hadirnya partisipasi internasional yang sangat kuat, serta dukungan solidaritas budaya dari berbagai wilayah di Tanah Papua. Sebanyak tiga negara asing telah tercatat resmi ikut serta menyemarakkan festival, yaitu Singapura, Malaysia, dan Philipina yang berfokus pada Diving.
Kemeriahan pesta rakyat ini dipastikan semakin semarak dengan hadirnya keterlibatan dan partisipasi aktif dari kontingen kabupaten lain di Papua, seperti Kabupaten Supiori, Waropen, Kepulauan Yapen, hingga perwakilan dari wilayah adat Saireri lainnya yang ikut mengirimkan tim seni, pelaku UMKM, dan perwakilan budayawan mereka.
Kabar gembira juga datang dari pemerintah pusat, di mana pembukaan festival tahun ini direncanakan akan dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, (Ni Luh. Enik Ermawati). Kehadiran pihak kementerian ini menjadi suntikan motivasi dan semangat baru bagi seluruh jajaran dan masyarakat dalam menyukseskan gelaran akbar nasional yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 tersebut.
“Kehadiran wakil tiga negara sahabat serta dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata RI menjadi bukti pengakuan dunia atas nilai budaya ‘Munara Wampasi’. Ditambah lagi dengan partisipasi antusias dari kabupaten- kabupaten tetangga di Tanah Papua, ini memperkuat FBMW sebagai ruang rajutan persaudaraan nusantara,” ujar Onny Dangeubun.
“Maksud utama dari festival ini adalah melestarikan esensi tradisi leluhur sekaligus mengintegrasikannya dengan industri pariwisata modern. Tujuannya jelas, untuk mempromosikan potensi bahari dan keunikan kultural Biak ke panggung global secara berkelanjutan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Turbey Onny Dangeubun memaparkan dampak ekonomi riil yang ditargetkan dari perhelatan akbar ini. Keuntungan bagi masyarakat lokal adalah terciptanya perputaran ekonomi langsung (direct economic effect) melalui sektor akomodasi, transportasi, kuliner, peningkatan pendapatan perajin UMKM, serta pembukaan lapangan kerja kreatif musiman.
Sementara bagi Pemerintah Daerah (Pemda) Biak, event ini menguntungkan untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata, perluasan jaringan investasi internasional, hingga penguatan branding Biak sebagai pusat poros maritim budaya di kawasan Pasifik. Kerja sama nyata mulai dari pelatihan tenaga ahli hingga promosi produk lokal pun sudah mulai dibahas bersama negara mitra.
Onny Dangeubun juga menyampaikan himbauan tegas serta harapan besar kepada seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan FBMW 2026. Ia menghimbau warga Biak untuk menjadi tuan rumah yang ramah, menjaga kebersihan lingkungan di setiap venue, serta bersama-sama menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban.
“Harapan besarnya, festival ini tidak sekadar menjadi tontonan tahunan yang meriah, melainkan menjadi momentum kebangkitan pariwisata daerah yang mampu melahirkan agen-agen pelestari budaya muda serta memposisikan Biak secara permanen dalam peta destinasi wisata internasional berbasis budaya dan kelautan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, FBMW 2026 akan menyuguhkan 12 kegiatan utama yang menjadi daya tarik inti festival sepanjang satu pekan ke depan, antara lain:
1). Upacara Pembukaan & Pemukulan Tifa Adat.
2). Atraksi Sakral Apen Beyeren (Berjalan di atas batu panas).
3). Tradisi Snap Mor (Menangkap ikan saat laut surut).
4). Parade Seni Budaya:
Tari Wor, Yospan, dan Musik Tradisional. 5). Produk Ekonomi Kreatif & UMKM Lokal.
6). Wisata Edukasi Hutan Bakau/Mangrove.
7). Jelajah Kepulauan Padaido & Wisata Bahari,
8). Kegiatan Selam Seru (Fun Dive) di Titik Selam Wardo.
9). Festival Kuliner Khas Biak & Papua. 10). Pelatihan dan Lomba Meracik Kopi Lokal,
11). Parade Perahu Tradisional Masyarakat Pesisir
12). Penutupan & Apresiasi Pelaku Budaya.
Mari bersama-sama kita lambaikan tangan keramahan, menyambut setiap jiwa yang datang dengan kehangatan penuh persaudaraan. Lapangan Cenderawasih dan birunya lautan Biak telah siap menjadi saksi bisu bersatunya ragam budaya dan senyuman dari seluruh penjuru dunia.Sampai jumpa lusa, Rabu, 1 Juli 2026, dalam pelukan tradisi Festival Biak Munara Wampasi—karena di Biak, kita semua adalah keluarga.
(Fian/Olin).





