Setiap pagi, Akang duduk di bangku taman yang sama. Bangku kayu tua di bawah pohon flamboyan yang selalu menebar guguran kelopaknya ke tanah. Di hadapannya, ada jalur jogging yang biasa dilalui orang-orang. Termasuk dia—Nyai,”
Sudah lebih dari enam bulan Akang mengenal wajah itu. Rambut hitam yang diikat sederhana, senyum ramah ketika menyapa satpam taman, dan langkah yang mantap saat berlari. Semuanya mengisi hari-hari Akang yang sepi. Ia bahkan hafal warna sepatu lari Nyai yang berganti tiap dua minggu.
Namun, Akang hanya duduk dan diam. Ia tidak pernah menyapa, tidak pernah berani menegur. Ada rasa yang tumbuh, mekar perlahan di dalam dada. Tapi lidahnya selalu kelu. Pikirannya terlalu ramai dengan kemungkinan-kemungkinan buruk: ditolak, dianggap aneh, atau malah dicueki.
Suatu pagi, Nyai duduk di bangku taman yang sama. Mungkin karena lelah atau sekadar ingin menikmati pagi. Akang nyaris tak bisa bernapas. Detak jantungnya seperti genderang perang. Mereka hanya duduk berdampingan, tanpa kata. Nyai tersenyum sopan, dan Akang membalasnya dengan senyum yang terlalu canggung.
“Sering ke sini, ya?” tanya Nyai pelan, memecah keheningan.
Akang mengangguk. “Iya… hampir setiap hari.”
“Tempatnya nyaman, ya,” lanjut Nyai, lalu meneguk air mineral dari botol kecilnya.
Akang ingin berkata, ‘Tempat ini jadi nyaman karena kamu sering lewat.’ Tapi ia hanya menunduk, menggenggam tangannya sendiri.
Hari itu, Nyai pamit lebih dulu. Tapi sebelum pergi, ia sempat berkata, “Kalau besok ke sini lagi, mungkin kita bisa ngobrol lebih lama.”
Dan Akang hanya menjawab dengan anggukan—lagi-lagi diam.
Malam harinya, Akang duduk di depan cermin. Ia menatap dirinya sendiri. “Sampai kapan kamu mau seperti ini, Ga?” tanyanya pada pantulan yang sama bisunya. Tapi hatinya sudah penuh. Esok, ia berjanji akan bicara. Akan mengatakan semuanya. Setidaknya bertanya nama lengkapnya, atau sekadar meminta nomor telepon.
Namun esoknya, Nyai tak datang. Begitu juga hari-hari setelahnya.
Bangku taman itu tetap kosong di sebelah Akang. Ia tetap datang, setiap pagi, membawa harapan yang kian tipis. Diamnya kini bukan karena ragu, tapi karena kehilangan kesempatan.
Dan Akang belajar, bahwa keberanian bukan soal berani bertarung. Tapi tentang tak menunda saat hati tahu apa yang ia inginkan.
Sebab tidak semua yang kita cintai akan tinggal lama. Kadang, mereka hanya lewat—memberi warna—lalu pergi… meninggalkan penyesalan bagi mereka yang terlalu lama diam.
Red…








