Ibadah merupakan inti dari kehidupan seorang Muslim. Ia adalah bentuk penghambaan kepada Allah yang mencakup segala aspek kehidupan, baik yang bersifat ritual maupun sosial. Namun, seiring waktu dan godaan dunia, nilai dari ibadah itu sendiri dapat mengalami degradasi—bukan karena bentuknya yang salah, melainkan karena hatilah yang tercemar. Penyebab utamanya adalah penyakit hati. Diantara penyakit hati yang dapat mendegradasi nilai ibadah seseorang yaitu antara lain Iri dan dengki. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW.
اِياَّ كُم وَالحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَاْ كُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاْ كُلُ النَّارُ الحَطَبَ
Artinya: ”Jauhkanlah dirimu dari hasad karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu-bakar.” (HR. Abu Dawud).
Hasad adalah kejahatan energi tersembunyi yang dapat membahayakan manusia. Allah menyuruh kita untuk meminta perlindungan Allah darinya: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki” (Q.S. Al-Falaq: 5)
Hasad dapat dianalogikan sebagai suatu benda yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun keberadaannya justru memiliki pengaruh dan dampak yang luar biasa serta bahaya yang lebih ganas dibandingkan dengan sesuatu yang dapat terlihat mata. Meski hasad tidak terlihat secara kasat mata, namun efek terhadap jiwa dan tatanan sosial sangat nyata.
Syech Shams Tabrizi seorang ulama sufi pernah mengungkapkan “ Jika engkau terus menyakiti orang lain, maka ibadah apapunyang kau lakukan tidak ada gunanya “ dalam ungkapan ini beliau ingin mengatakan bahwa ibadah tanpa kelembutan hati hanyalah bentuk kosong; suara tanpa jiwa. Kau bisa salat seribu rakaat, berpuasa setiap hari, atau berhaji berkali-kali — tapi bila di hatimu ada kesombongan, kebencian, dan ketidakpedulian terhadap sesama, semua itu kehilangan maknanya. Karena Tuhan tidak hanya melihat gerak tubuhmu, tetapi juga getar hatimu.
Refleksi terdalam dari kalimat ini adalah kesadaran bahwa spiritualitas sejati lahir dari kelembutan. Hati yang peka tak akan mudah menyakiti, karena ia tahu betapa dalamnya luka yang ditinggalkan kata atau sikap. Maka, sebelum beribadah panjang, tanyakan pada diri: adakah hati yang telah kau lukai hari ini?
Sebab mungkin, penghapus dosa yang paling besar bukan pada sajadahmu, melainkan pada keberanianmu meminta maaf dan menambal hati yang pernah kau retak kan.
*Kang Arip, M.Pd*




