Meningkatnya Harga Pakan, Penjualan Sapi Kurban di Subang Mengalami Penurunan Akibat Harga Melonjak

Subang. Penanews.net _ Jawa Barat Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, para peternak sapi di Kabupaten Subang mulai merasakan penurunan daya beli masyarakat terhadap hewan kurban.

Kondisi ini dipicu melonjaknya harga sapi di pasaran yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membeli hewan kurban tahun 2026.

Salah seorang peternak sapi di Desa Sagalaherang Kidul, Kecamatan Sagalaherang, Endang Setiawan, mengatakan kenaikan harga sapi terjadi akibat dampak lanjutan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat melanda pada 2024 lalu.

Menurutnya, dampak PMK menyebabkan stok sapi berkurang sehingga harga di tingkat peternak mengalami kenaikan cukup signifikan.

“Sekarang ekonominya melemah karena sapinya pada mahal di peternak, imbas dari tahun 2024 penyakit mulut dan kuku (PMK). Makanya sekarang sapi kurban jarang, harganya melonjak terus di pasaran, sementara ekonomi masyarakat juga mungkin lagi lemah,” ujar Endang saat ditemui di kandangnya di Kampung Cieunteung, Dusun 1, Desa Sagalaherang Kidul pada Sabtu (9/5/2026).

Endang mengungkapkan, kondisi penjualan tahun ini jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada Idul Adha tahun lalu dirinya mampu menjual hingga 117 ekor sapi, tahun ini penjualan menurun drastis.

“Tahun kemarin bisa menjual 117 ekor sapi, sekarang menjual 60 ekor juga agak ngos-ngosan, susah dan sepi,” katanya.

Meski demikian, Endang tetap bersyukur karena hingga awal Mei 2026 sudah ada pesanan lebih dari 40 ekor sapi dari berbagai daerah di Subang dan sekitarnya.

“Alhamdulillah tetap bersyukur, orderan sudah 40 ekor lebih. Walaupun sekarang pembelanjaan sapi naik, yang biasanya harga sapi 20 juta sekarang Rp24 juta sampai Rp25 juta,” ucapnya.

Menurut Endang, untuk paket kurban di daerah sebenarnya tidak mengalami kenaikan terlalu besar. Rata-rata masyarakat masih memilih paket kurban dengan kisaran Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per orang untuk sistem patungan sapi.

Ia menjelaskan, kenaikan harga sapi saat ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari mahalnya harga pakan ternak, naiknya biaya operasional peternakan, hingga berkurangnya stok sapi menjelang Idul Adha.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga berdampak terhadap mahalnya harga sapi bakalan impor dari Australia yang biasa digunakan untuk penggemukan.

“Sekarang konsentrat seperti RC naik hampir 40 persen. Jadi ikut ngaruh semuanya, harga plastik naik, pakan naik, semuanya naik,” jelasnya.

Meski harga tinggi, Endang memastikan kualitas dan kesehatan sapi di kandangnya tetap terjamin. Ia mengatakan petugas dari Dinas Peternakan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan hewan untuk memastikan sapi bebas penyakit dan layak dijadikan hewan kurban.

“Alhamdulillah kesehatan sapi terjamin karena dari dinas peternakan sering mengecek kesehatan sapi di sini,” ungkapnya.

Di kandangnya, Endang menyediakan sekitar 60 ekor sapi siap jual, sementara stok lainnya masih disimpan di kandang petani untuk menghemat biaya pakan.

Jenis sapi yang tersedia pun cukup beragam, mulai dari sapi limosin, simental, sapi lokal, hingga jenis FH hasil persilangan dengan sapi Australia.

Endang berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para peternak, khususnya melalui bantuan subsidi pakan maupun pengendalian harga bahan pokok penunjang peternakan.

Ia menilai tanpa adanya dukungan pemerintah, para peternak akan semakin kesulitan menghadapi tingginya biaya produksi yang terus meningkat setiap tahun.

“Kami berharap ada subsidi dari pemerintah supaya peternak tidak terlalu berat karena sekarang semua mahal,” pungkasnya.