Biak Numfor Papua, penanews.net – Deru ombak Kepulauan Padaido pagi ini seolah menyanyikan simfoni perdamaian, menyambut langkah kaki para insan dari berbagai belahan bumi di atas tanah bersejarah Pulau Owi [FBMW 2026]. Di tengah kehangatan mentari Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026, perbedaan paspor dan latar belakang tak lagi berjarak; seluruh peserta berdiri berdampingan dalam rasa takjub yang sama, merasa sangat puas, senang, dan lega bisa melintasi samudera demi menginjakan kaki langsung di atas sisa landasan pacu legendaris pangkalan udara Perang Dunia Kedua.
“Saya merasa sangat puas dan lega bisa sampai di sini. Mengetahui sejarah tempat ini dari buku adalah satu hal, tetapi menginjakkan kaki langsung di bekas bandara Perang Dunia Kedua di Pulau Owi ini sungguh membuat saya bersyukur. Keindahan alam Biak benar-benar murni dan menakjubkan,” ujar Alastair McGregor, warga negara Newselan yang saat ini menetap di Australia.
Nada kebahagiaan yang setara juga terpancar dari Gary, pria asal Jerman yang kini menetap di Filipina. “Saya mendapat info tentang Festival Biak Munara Wampasi saat berada di Filipina, dan datang ke sini adalah keputusan terbaik yang saya ambil tahun ini. Pulau Owi sangat indah, masyarakatnya ramah, dan kombinasi antara wisata alam serta situs sejarah perang ini luar biasa. Saya sangat senang bisa melihatnya langsung hari ini,” ungkap Gary sambil tersenyum lebar.
Antusiasme luar biasa tidak hanya datang dari mancanegara, tetapi juga dirasakan oleh akademisi asal Jayapura yang ikut dalam rombongan. Dr. Halomoan Edy Manurung, M.Cs, seorang Dosen dari Program Studi Sistem Informasi Universitas Ottow Geissler, mengungkapkan betapa perjalanan bahari ini berhasil membayarkan tuntas kejenuhan aktivitas kerja dan memberikan kesegaran pikiran yang luar biasa.
“Menikmati langsung perjalanan tour ke Pulau Owi ini benar-benar membuat perasaan saya menjadi sangat lega dan fresh kembali. Di tengah rutinitas akademis, pemandangan alam yang murni dan nilai sejarah yang kuat di pulau ini memberikan energi positif baru bagi saya. Sangat bersyukur bisa hadir langsung menyaksikan potensi luar biasa ini di FBMW 2026,” ungkap Dr. Halomoan penuh kagum.
Di sela-sela kesibukannya, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pariwisata Biak Numfor, Iriani Rawar, membeberkan keragaman latar belakang para peserta yang dipersatukan oleh rasa penasaran yang sama terhadap pesona Biak. Iriani Rawar menjelaskan bagaimana manajemen waktu dan rute perjalanan diatur demi memberikan kenyamanan bagi para pelancong dari berbagai daerah tersebut. Petualangan bahari ini berlangsung tepat pada hari ini, memanfaatkan momentum puncak FBMW 2026.

“Perjalanan hari ini berjalan lancar dari titik start utama hingga rombongan tiba di Pulau Owi. Dari situ, kami langsung mengarahkan para peserta untuk mengeksplorasi dan melihat dari dekat bandara bersejarah sisa peninggalan perang dunia,” jelas Iriani mengenai alur perjalanan laut hingga mendarat di situs sejarah tersebut.
Iriani juga membeberkan bahwa magnet FBMW kali ini berhasil menjaring peserta dari berbagai belahan daerah.
“Dari sekian banyak peserta tour yang ikut saat ini, ada yang datang jauh-jauh dari daerah Jayapura dan Timika. Bahkan, ada juga peserta yang datang dari luar Papua sengaja ke sini hanya untuk menikmati keindahan alam wisata di Biak melalui momentum FBMW ini. Selain wisatawan dari dalam dan luar daerah Papua, hari ini kami juga sangat bangga karena ada dua turis mancanegara yang turut serta mengikuti perjalanan tour di Pulau Owi,” tutur Iriani hangat.
Bukan sekadar pelesiran, pemerintah daerah melihat perjumpaan budaya ini sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan. Menutup keterangannya, Iriani Rawar menggantungkan harapan besar agar harmoni pariwisata ini mampu menghidupkan dapur-dapur ekonomi kreatif masyarakat lokal di kepulauan.
“Kami berharap perkembangan pariwisata di Kepulauan Padaido ini ke depannya semakin maju dan secara langsung bisa mendongkrak sektor UMKM di Biak Numfor. Ketika pariwisata tumbuh, ekonomi kreatif warga kampung juga ikut bergerak,” harap Iriani optimistis.
Di balik rasa puas mereka, para turis asing menitipkan catatan tulus sebagai bentuk kepedulian mereka agar wajah pariwisata Padaido semakin bersinar di kancah global:
1). Papan Informasi Sejarah: Menyediakan literasi narasi (storytelling) dwibahasa (Indonesia-Inggris) di area bekas bandara PD II agar nilai sejarahnya dapat dipahami publik global secara mandiri.
2). Fasilitas Ramah Lingkungan: Menambah sarana sanitasi umum dan tempat pembuangan sampah terintegrasi di sekitar area pantai tanpa merusak estetika asli pulau.
3). Digitalisasi Promosi: Memperluas publikasi paket Tour Padaido secara daring jauh-jauh hari agar pelancong internasional bisa menjadwalkan kunjungan lebih awal.
Harmoni Perdamaian dari Gerbang PasifikKetika mesin kapal perlahan mulai dinyalakan untuk bertolak kembali ke daratan utama Biak, ada sebuah kehangatan yang tertinggal di pesisir Pulau Owi. Lambaian tangan ramah dari anak-anak pulau seolah melepas kepergian rombongan dengan senyuman. Perjalanan hari ini membuktikan bahwa batas negara, suku, dan profesi melebur sepenuhnya di bawah langit Padaido, menyisakan sebuah kesadaran mendalam bahwa keindahan alam dan jalinan persaudaraan adalah bahasa universal yang selalu menyatukan hati manusia.
Ketika mesin kapal perlahan mulai dinyalakan untuk bertolak kembali ke daratan utama Biak, ada sebuah kehangatan yang tertinggal di pesisir Pulau Owi. Lambaian tangan ramah dari anak-anak pulau seolah melepas kepergian rombongan dengan senyuman. Perjalanan hari ini membuktikan bahwa batas negara, suku, dan profesi melebur sepenuhnya di bawah langit Padaido, menyisakan sebuah kesadaran mendalam bahwa keindahan alam dan jalinan persaudaraan adalah bahasa universal yang selalu menyatukan hati manusia.
(Fian/Olin).





