Di setiap sudut kecamatan di kabupaten Kotabaru, banyak masjid berdiri sebagai penanda kehidupan yang tak pernah diam. Dari Pesisir hingga perbukitan, dari desa hingga pusat kota, azan selalu menemukan jalannya untuk mendengar dan menyapa siapa saja yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukan. Masjid bukan sekedar tempat ibadah, tetapi juga ruang hidup di tengah dinamika manusia.
Menapaki 29 Masjid bukanlah sekedar pertemuan dan perjalanan, tetapi juga pertemuan dengan cerita-cerita berbeda di setiap perjalanannya. Ada masjid yang bediri tegak di pusat kota, ada yang tersembunyi di desa, ada juga yang ditemani dengan debur ombak dan pasir pesisir, dan ada juga dibawah bayang pegunungan. Perbedaannya nyata , namun tujuannya tetap satu, tempat manusia kembali bersujud.
Dalam keseharian, masjid menjadi tempat bertemunya banyak cerita. Ada yang dayang tergesa dari pekerjaan, ada yang singgal di sela perjalan dan ada yang setia menjadilannya sebagai rutinitas. Namun ketika berdiri dalam satu shaf, semua perbedaan seakan di tinggalkan, dan kembali mengingat arah yang sama.
Namun dibalik itu ada sisi lain yang terlewatkan. Di balik masjid-masjid itu, ada yang masih belum sempurna dibangun, yang mungkin terbatas fasilitasnya, yang belum mampu memberikan kenyaman bagi jamaahnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap masjid belum sepenuhnya sebanding dengan peran yang dimilikinya.
Masjid bukan hanya tentang dinding dan atap yang berdiri, tetapi tentang makna yang hidup di dalamnya. Ia adalah simbol hubungan antara Manusia dengan Tuhan dan cerminan tanggung jawab manusia terhadap apa yang dimilikinya. Saat masjid dirawat dengan baik, nilai nilai didalamnya terasa hidup dalam keseharian. Namun ketika perlahan mulai berkurang, maka makna itu perlahan ikut memudar.
Di penghujungnya, masjid bukan hanya tempat bersujud, tetapi tempat untuk kembali. Ia menjadi kembali kepada ketenangan, kesadaran dan tanggung jawab.Di tengah azan yang tak pernah berhenti dan kehidupan yang terus berlari, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki dan memahami makna yang selama ini terlewat.
Menyusuri 29 Masjid yang disinggahi yang menghadirkan banyak cerita, namun pada akhirnya menyisakan hal yang sama bahwa setiap langkah yang ditempuh, pada akhirnya akan membawa kita kembali kearah yang seharusnya.
Tentang Penulis :
Founder Pesona Kotabaru, Ketua Komunitas Wirausaha Digital (Community Entrepreneurship Digital), Pelaku ekonomi kreatif, Bersekolah di SMAN 1 Kotabaru, Kalimantan Selatan. Memiliki skill desain grafis dan sastra, serta kerap menantang diri lewat lomba infografis, desain, hingga arsitektur. Pernah menjuarai berbagai lomba desain poster tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Karyanya telah terhimpun dalam; Aruh Sastra Kalimantan Selatan XXI (2024), Abmedia (2024), Penulisan cerita anak berbasis STEAM dan antologi bersama lainnya. Selain menulis cerpen, puisi, dan artikel, ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan sosialisasi di Kotabaru sebagai wujud kepedulian pada lingkungan sekitar.










