Biak Numfor Papua, penanews.net– Suasana penuh sukacita dan ucapan syukur menyelimuti Kampung Saba Marao, Klasis Biak Timur, saat rombongan Persekutuan Wanita (PW) GKI Harapan Abepura hadir membawa jembatan kasih yang tulus. Kehadiran mereka dalam agenda Tour Wisata Rohani (Wisro) tidak sekadar menjadi momen perjumpaan iman yang indah, melainkan sebuah pelayanan diakonia nyata yang menyentuh langsung denyut nadi perekonomian keluarga.
Dengan hati yang terbuka, kaum ibu dari Jemaat Persiapan Israel Marao dan Jemaat GKI Lukas Saba bersatu padu, mengucap syukur atas berkat ilmu manajemen keuangan dan keterampilan mengolah potensi alam yang kini resmi menjadi warisan berharga bagi kemandirian jemaat di kampung halaman mereka.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni Selasa (30/6/2026) hingga Rabu (1/7/2026), diisi dengan pembekalan materi Manajemen Pengelolaan Keuangan Sederhana dan UMKM dalam Penguatan Ekonomi Keluarga. Program ini menyasar para ibu PW serta warga masyarakat Kampung Saba agar mampu mandiri secara finansial.
Pada hari pertama, Selasa (30/6/2026), para peserta menerima pemahaman mendalam tentang pentingnya mengatur keuangan rumah tangga dan usaha. Menghadirkan Kepala Bank Papua Supiori, Bpk. Balidem Ronsumbre, SE, sebagai narasumber, kegiatan ini membuka wawasan jemaat bahwa manajemen keuangan yang baik adalah fondasi utama dalam membangun usaha di kampung.
Dalam pemaparannya, Balidem Ronsumbre menekankan bahwa peluang permodalan saat ini sudah terbuka lebar berkat dukungan sinergis antara Pemerintah dan sektor perbankan (BUMN/BUMD).
“Pihak Pemerintah dan BUMN/BUMD saat ini sudah menyediakan bantuan modal usaha dalam bentuk pinjaman. Ini adalah kesempatan yang sangat baik dan harus dimanfaatkan oleh ibu-ibu sekalian. Namun, agar usaha dapat bertumbuh, pinjaman modal ini harus dikelola dengan disiplin, serta mengikuti syarat, kriteria, dan petunjuk teknis yang ada,” jelas Balidem Ronsumbre, SE.
Setelah dibekali teori manajemen, antusiasme para ibu semakin menyala saat memasuki sesi praktik langsung pada hari kedua. Narasumber kedua, Elga Osbabur, memotivasi peserta dengan menegaskan bahwa kesejahteraan sebenarnya bisa diciptakan langsung dari dalam kampung sendiri, memanfaatkan karunia alam yang melimpah di Biak Numfor.
“Sesungguhnya uang itu ada di kampung. Apalagi Kabupaten Biak Numfor ini sangat terkenal dengan potensi ikan laut dan hasil laut lainnya. Selain itu, kita punya pangan lokal yang luar biasa seperti sagu, keladi, petatas, singkong, hingga buah-buahan seperti mangga, pepaya, jambu, pinang, dan kelapa. Semua potensi lokal ini jika dikelola dengan kreatif dapat menjadi sumber pendapatan utama untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga, jemaat, hingga industri rumahan (home industry),” ungkap Elga Osbabur optimis.
Ibu-ibu PW dari Jemaat Persiapan Israel Marao dan Jemaat Lukas Saba kemudian langsung mempraktikkan pembuatan berbagai produk olahan pangan kreatif. Selama pelatihan, mereka sukses mengolah produk-produk berkualitas tinggi seperti Abon Ikan (dari olahan ikan cakalang dan tenggiri), Nugget Ikan, Pentolan Ikan, Roti dari Labu, Biskuit dari Kelapa, dan Jus Minuman dari Pinang.
Sentuhan pelayanan kasih ini langsung membuahkan hasil nyata. Produk olahan yang telah selesai diproduksi langsung dikemas secara higienis dan menarik dengan label nama “Hasil Praktek Wisro” (Wisata Rohani). Hebatnya, produk-produk kemasan seperti Abon Ikan, Nugget Ikan, dan Pentolan Ikan tersebut langsung diserbu pembeli hingga laris manis terjual di lokasi kegiatan. Kegiatan ini meninggalkan rasa haru sekaligus rasa syukur yang mendalam di hati pengurus dan anggota PW jemaat setempat di Biak Timur.
“Kami sangat bersyukur kepada Tuhan dan menyampaikan banyak terima kasih atas kegiatan dari PW Jemaat GKI Harapan Abepura Jayapura. Kehadiran ibu-ibu dari Jayapura di jemaat dan kampung kami tidak semata-mata untuk kunjungan wisata rohani biasa. Mereka datang dengan ketulusan, melakukan pelayanan kasih dengan berbagi ilmu dan keterampilan sebagai berkat positif dari Tuhan Yesus yang ditularkan kepada kami,” ujar salah seorang pengurus PW setempat dengan mata berkaca-kaca.
“Tentu setelah kegiatan ini ibu-ibu PW akan kembali ke Jayapura, tetapi ada berkat hidup yang mereka tinggalkan di sini. Ilmu ini akan terus kami gunakan untuk membantu ibu-ibu di jemaat dan kampung dalam mengelola potensi lokal yang ada demi masa depan keluarga kami,” tutupnya penuh rasa syukur.
Hari-hari penuh kebersamaan di Kampung Saba ini mungkin telah usai, namun jejak pelayanan kasih yang ditinggalkan akan terus hidup. Dengan hati yang sarat akan rasa syukur kepada Sang Kepala Gereja, kedua jemaat lintas klasis ini resmi mengikat tali persaudaraan yang lebih erat, siap melangkah bersama dalam kemandirian ekonomi dan keteguhan iman yang nyata.
(Fian/Olin)





