iak Numfor Papua, penanews.net — Di bawah langit Kampung Mnurwar yang perlahan meredup, Ribuan pasang kaki Suku Biak bersama wisatawan melangkah beriringan memasuki senyapnya air laut yang surut, saling menggenggam jemari dan tombak tradisional bukan demi kepuasan memburu, melainkan untuk merawat sebuah janji kuno kepada alam.
Tradisi Snap Mor yang digelar hari ini menjadi pengingat paling damai bagi peradaban modern; bahwa samudera tidak perlu ditaklukkan dengan keserakahan, sebab riak ombak akan selalu setia membagikan rezekinya secara adil kepada manusia yang tahu cara memperlakukannya dengan rasa hormat dan cinta.
Langkah nyata untuk membawa kearifan lokal ini ke panggung global terus digelorakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Biak Numfor melalui Dinas Pariwisata. Upaya promosi budaya Snap Mor agar menembus dunia internasional terbukti membuahkan hasil nyata pada hari ini, Sabtu (04/07/2026), saat Bupati Biak Numfor, Markus Octovianus Mansnembra, S.H., M.M., secara resmi membuka kegiatan Snap Mor di Kampung Mnurwar
Dalam prosesi pembukaan yang penuh kehangatan tersebut, Bupati turut didampingi oleh sang istri sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Biak Numfor, Ny. Imelda Maria Wospakrik Mansnembra. Hadir pula jajaran kepemimpinan strategis Pemda Biak Numfor, termasuk Plt.Sekda Biak Numfor, Zacharias L. Mailoa, S.T., M.M., Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Simon Rumpaisum, S.H., M.AP., Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun., S.Pi., M.Si., serta sebagian besar pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor.
Keamanan dan kelancaran jalannya acara komunal berskala besar ini turut dikawal langsung oleh Kapolsek Biak Timur, Ipda Mervin S.M. Rumpaidus, beserta jajaran personel Polres Biak Numfor. Kehadiran para pimpinan daerah lengkap dengan jajaran birokrat, tokoh penggerak wanita, dan aparat hukum bersama elemen masyarakat serta sejumlah turis mancanegara menciptakan atmosfer kebersamaan yang sangat kuat, sekaligus mempertegas dukungan lintas sektor dalam menjaga warisan leluhur.
Apa yang terlihat seperti acara menangkap ikan secara massal ini sebenarnya adalah sistem pengelolaan laut canggih yang telah berusia berabad-abad. Berasal dari bahasa asli Biak, snap berarti koral atau batu kecil, sementara mor merujuk pada tumpukan kelimpahan hasil laut. Secara harfiah, tradisi ini melambangkan butir-butir rezeki yang disediakan oleh samudera.
Diwariskan secara turun-temurun, Snap Mor merupakan puncak dari Munara—pesta adat yang didedikasikan sebagai wujud syukur sekaligus menjaga kelestarian ekologi setempat. Keberlangsungan Snap Mor tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipandu oleh garis silsilah otoritas adat (Keret atau klan) yang ketat.
Otoritas dan tata cara pelaksanaan tradisi ini diturunkan melalui tiga pilar silsilah sosial kemasyarakatan suku Biak, yaitu Mananwir Beba (Kepala Adat Tertinggi) sebagai pemegang mandat utama leluhur, Mananwir Keret (Kepala Klan/Suku) yang mengorganisasi anggota keluarga, serta Kainkain Kankarem (Para Tetua Kampung) sebagai penjaga spiritual generasi muda.
Silsilah tata cara ini bersandar pada hukum Sasien / Krar (Sasi Laut). Berdasarkan silsilah adat, hak pengelolaan laut diwariskan ke klan tertentu yang bertugas memberlakukan “larangan ambil” selama berbulan-bulan. Penutupan berkala ini memastikan bahwa saat Snap Mor akhirnya digelar atas kesepakatan bersama, ekosistem laut telah pulih sepenuhnya dan siap memberikan panen yang melimpah.
Jauh sebelum masyarakat turun ke air, kegiatan di Kampung Mnurwar hari ini dimulai dengan keheningan yang sakral. Para tetua kampung memimpin ritual Pele Jaring, sebuah upacara spiritual berbasis pembakaran daun kelapa untuk memanggil ikan dan memohon keselamatan bagi seluruh peserta, termasuk para wisatawan asing yang hadir.
Seorang Mananwir senior yang memimpin upacara adat menegaskan filosofi mendalam di balik tradisi ini dalam bahasa leluhur mereka: “Sno komes i, snar msnis mansar nggor kom rari pampam. Karu isnes, msnis isnes, kom mboi mor kaker isfna monda.” Artinya, kita menjaga laut ini, karena laut dan karang telah memberi kita kehidupan sejak zaman nenek moyang. Jika kita merawatnya, maka rezeki dan kelimpahan ikan dari samudera akan selalu ada untuk anak cucu kita.
Waktu pelaksanaannya pun mengikuti kalender astronomi leluhur. Tradisi ini hanya dilakukan pada musim Meti, fenomena air laut surut terendah dalam setahun akibat siklus bulan yang umumnya terjadi antara bulan Maret hingga Agustus. Dengan membatasi aktivitas penangkapan ikan hanya pada jendela waktu spesifik ini, masyarakat memberikan ruang bagi ekosistem laut dan terumbu karang untuk beregenerasi di sisa bulan lainnya.
Kehadiran turis mancanegara di Kampung Mnurwar menjadi bukti nyata keberhasilan agenda tahunan Pemda Biak Numfor yang juga diintegrasikan ke dalam Festival Biak Munara Wampasi (FBMW). Langkah Dinas Pariwisata Biak bersama seluruh pimpinan OPD terkait terbukti mampu mengubah adat lokal menjadi daya tarik pariwisata berkelanjutan yang berskala internasional.
Di tengah ancaman global terhadap lautan akibat penangkapan ikan berlebih (overfishing) dan perubahan iklim, para peneliti serta pelancong internasional mulai melirik praktik adat seperti Snap Mor. Berbagai laporan ilmiah mengenai Praktik Konservasi Budaya Snap Mor menyoroti bagaimana hukum silsilah adat berhasil mencegah penipisan sumber daya laut tanpa memerlukan penegakan hukum berbasis teknologi modern.
Saat matahari perlahan tenggelam di cakrawala Kampung Mnurwar, riuh rendah tawa warga, jajaran pimpinan daerah, ibu bupati, aparat keamanan, dan para turis asing lambat laun berganti dengan ketenangan laut yang kembali pasang.
Dari bibir pantai Biak, tradisi Snap Mor hari ini melabuhkan sebuah pesan moral yang mendalam bagi dunia: bahwa kekayaan samudera bukanlah warisan mutlak untuk dihabiskan hari ini, melainkan sebuah titipan sakral yang harus dirawat bersama secara adil agar anak cucu kita kelak masih bisa mendengar nyanyian ombak yang sama, dalam harmoni kehidupan yang tidak akan pernah putus.
(Fian/Olin).





