Biak Numfor Papua, penanews.net – Semarak pelestarian budaya maritim kembali memukau ratusan wisatawan di pesisir utara Papua. Pada hari ini, Minggu (05/07/2026), Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Biak Numfor sukses menyelenggarakan Parade Perahu Tradisional Wai Mansusu yang dipusatkan di Kampung Anggopi, Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Agenda ikonik ini digelar dalam rangka memeriahkan hari kelima Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) XIV Tahun 2026 yang berlangsung sepanjang 1–7 Juli 2026.
Langkah ini diambil Pemda Biak Numfor untuk memperkenalkan kembali kejayaan bahari Suku Byak ke panggung internasional sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat pesisir. Keberhasilan FBMW 2026 menembus pasar pariwisata nasional dan internasional merupakan buah dari perjuangan panjang dan konsisten Bupati, Markus Oktovianus Mansnembra., SH., MM., dan Wakik Bupati, Jimmy CR., Kapisa bersama Dinas Pariwisata. strategi promosi pariwisata ini dirancang berkelanjutan sebagai program jangka panjang.
Mengenal Sejarah Wai Mansusu (Perahu Tangguh dari Mite Koreri): Bagi masyarakat adat Suku Biak, Wai Mansusu bukan sekadar alat transportasi air, melainkan simbol peradaban, ketangguhan, dan spiritualitas. Berdasarkan kajian sejarah maritim, Wai Mansusu merupakan salah satu dari empat jenis perahu tradisional utama orang Biak, selain Wairon, Waisik, dan Waikarures yang mendominasi pelayaran di pesisir utara Papua sejak abad ke-VIII hingga ke-XIX.
Secara kultural, eksistensi Wai Mansusu berakar kuat dalam Mite Koreri (mitologi pergerakan keagamaan dan tatanan hidup ideal Suku Biak). Dalam struktur fungsinya, perahu jenis ini dirancang dengan lambung yang kokoh dan kapasitas besar. Desain arsitektur perahu ini membuatnya sangat andal untuk dua misi utama:
1. Perahu Perang (Wai Kabor): Digunakan oleh para prajurit dan armada Biak saat melakukan ekspedisi perlindungan wilayah adat atau pertempuran laut inter-insuler.
2. Sarana Angkutan Logistik Adat: Berfungsi mengangkut muatan berat dalam pelayaran dagang jarak jauh (mefur), seperti hasil bumi, bahan pangan lokal, hingga mengantar harta kawin (ararem) antar-pulau.
Ketangguhan struktur kayu dan teknik kemudi tradisional Wai Mansusu mencerminkan tingginya penguasaan sains navigasi astronomi serta rancang bangun kapal laut oleh para leluhur Biak jauh sebelum modernisasi masuk ke Tanah Papua.
Ketangguhan dan makna filosofis perahu ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan sebuah prosesi sakral pembawa pesan perdamaian dan kemakmuran dari masa lalu. Wai Mansusu adalah bukti otentik bahwa leluhur Suku Byak adalah para penakluk lautan yang andal dan bijaksana. Menampilkan kembali perahu ini di lautan Anggopi hari ini adalah cara orang Byak memanggil kembali ingatan kolektif generasi muda, bahwa jati diri orang byak adalah pelaut ulung yang mandiri dan tegar menghadapi ombak zaman.
Pagi tadi, pesisir Kampung Anggopi berubah menjadi lautan manusia. Puluhan replika perahu adat Wai Mansusu lengkap dengan ukiran etnik bernuansa khas Saereri, hiasan bulu burung, dan umbul-umbul adat berparade rapi membelah ombak laut Biak. Para pendayung dan pemegang kemudi mengenakan pakaian adat tradisional Byak sembari menyanyikan lagu-lagu pelayaran kuno.
Kepala Kampung Anggopi, Leonard M Sanadi, menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya kepada Pemda Biak serta seluruh panitia FBMW 2026 yang telah mempercayakan wilayahnya sebagai pusat pelaksanaan parade legendaris ini.
“Kami warga Kampung Anggopi sangat bersyukur. Hari ini menjadi catatan sejarah baru bagi kampung kami. Melalui koordinasi yang intensif dengan Pemda dan tokoh-tokoh adat, kami berhasil mengemas parade Wai Mansusu ini agar aman dinikmati para wisatawan lokal maupun mancanegara yang memadati wilayah pantai sejak pagi hari,” kata Leo Sanadi.
Leo Sanadi juga menambahkan bahwa kehadiran ribuan pengunjung membawa dampak ekonomi yang luar biasa instan bagi warganya melalui perputaran uang di sektor pariwisata.
“Pendapatan asli kampung dan pemasukan pelaku UMKM lokal melonjak drastis hari ini. Semua stan kuliner habis terjual, dan semua pondok santai terisi semua. Pantai Anggopi benar-benar hidup dan mandiri secara ekonomi berkat FBMW 2026,” lanjut Leo dengan penuh semangat.
Rangkaian FBMW 2026 sendiri diproyeksikan akan terus bergulir memanjakan mata dunia dengan kekayaan adat Papua hingga upacara puncaknya pada Selasa, 7 Juli 2026 mendatang.
(Fian/Olin)





