Biak Numfor, penanews.net _ Papua. Hari ke-3 pasca ledakan maut yang terjadi pada hari minggu, 31 mey 2026, di kompleks perikanan Biak, jalan Walter Monginsidi, kelurahan Fandoy, distrik Biak kota, bupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, ditemukan 5 bagian potongan tubuh manusia dan beberapa bahan peledak aktif peninggalan perang dunia ke II.
Tragedi ledakan maut yang mengguncang Kompleks Perikanan, terus menyisakan luka mendalam sekaligus menghadirkan pertanyaan besar terkait keberadaan material peledak aktif di tengah permukiman warga.
Memasuki hari ketiga pasca-ledakan, aparat gabungan masih berjibaku di lapangan untuk mengungkap seluruh fakta di balik insiden yang telah merenggut nyawa warga sipil dan menghancurkan kawasan permukiman tersebut. Tim yang terdiri dari Polri, Brimob, TNI AD, TNI AL, TNI AU, Basarnas, Tim Jibom Gegana Polda Papua, hingga unsur laboratorium forensik masih melakukan operasi pencarian, identifikasi korban, dan sterilisasi lokasi.
kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, SH., S.I.K., MH. didampingi oleh Kasat Reskrim, Iptu Dr.Daniel Zeth. Rumpaidus, SH., MH., dan tim gabungan pada press rilis malam hari ini, selasa (02/06), pukul.20:30.wit, mengungkapkan sala satu korban yang sebelumnya dirawat di RSUD Biak tengah menghembuskan nafas terakhir, sehingga korban jiwa bertambah menjadi 6 orang.
“Berdasarkan update informasi terbaru, sala satu korban luka yang sebelumnya dirawat intensif di RSUD Biak dinyatakan telah meninggal dunia. Korban diketahui bernama, Almarhumah Mina Puadi (51), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kompleks Perikanan. Dengan meninggalnya Almarhumah Mina Puadi, jumlah korban tewas akibat ledakan tersebut kini mencapai enam orang. Sementara itu, satu korban masih menjalani perawatan intensif, dan 16 korban lainnya menjalani rawat jalan dengan pengawasan tenaga medis”, Ungkap Kapolres Ati Trestiawan.
Bertambahnya jumlah korban memperlihatkan bahwa daya ledak yang terjadi bukanlah ledakan biasa, melainkan memiliki kekuatan destruktif yang mampu menghancurkan bangunan sekaligus menimbulkan dampak fatal terhadap manusia di sekitar titik ledakan.
Lanjut Kapolres menjelaskan, Di saat publik menunggu kepastian nasib tiga warga yang masih dinyatakan hilang, operasi pencarian di wilayah Ring 2 menghasilkan temuan yang memilukan. Tim Basarnas bersama unsur gabungan menemukan lima serpihan bagian tubuh manusia di kawasan pesisir pantai Sampomi dan perairan sekitar lokasi kejadian.
“sampai dengan hari ini tim gabungan telah menemukan 5 bagian potongan bagian tubuh manusia. Temuan tersebut diduga kuat merupakan bagian tubuh dari tiga korban yang hingga kini belum ditemukan secara utuh. Seluruh serpihan yang ditemukan telah diamankan untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh Tim DVI Polda Papua yang segera diterjunkan guna mempercepat proses pencocokan identitas korban”, jelas Kapolres Ari Trestiawan.
Hingga malam ini, pusat ledakan atau Ring 1 masih belum dinyatakan aman untuk dimasuki secara bebas, tim Jibom masih menemukan berbagai material berbahaya yang berpotensi menimbulkan ledakan susulan. Kondisi tersebut memaksa aparat membatasi akses masyarakat demi mencegah jatuhnya korban baru.
Fakta bahwa area inti ledakan masih menyimpan ancaman menunjukkan bahwa kawasan tersebut diduga menjadi tempat berkumpulnya sejumlah material peledak aktif peninggalan perang yang selama ini tidak terdeteksi secara maksimal.
Kapolres Biak Numfor mengungkapkan, Di tengah proses pencarian korban, Tim Jibom Gegana Polda Papua kembali melakukan operasi pemusnahan terhadap sejumlah bahan peledak yang ditemukan di lokasi.
“Material berbahaya yang berhasil diamankan dan dimusnahkan antara lain: 1 granat nanas aktif dan 1 granat manggis aktif. Selain itu petugas juga mengamankan 2 proyektil aktif yang telah dilumpuhkan melalui metode gerinda amunisi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa lokasi kejadian bukan hanya menyimpan satu jenis bahan peledak, melainkan berbagai jenis amunisi peninggalan perang dunia yang masih memiliki daya ledak mematikan meski telah berusia puluhan tahun”, ujar Kapolres Ari Trestiawan.
Temuan paling penting dalam penyelidikan sejauh ini adalah hasil identifikasi terhadap sumber ledakan utama. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan analisis awal aparat, benda yang menjadi pemicu tragedi tersebut dipastikan merupakan mortir personel aktif.
Fakta ini membuka babak baru penyelidikan. Pertanyaan yang kini berkembang di tengah masyarakat adalah bagaimana mortir aktif tersebut bisa berada di tengah lingkungan pemukiman warga dan mengapa benda berbahaya itu tidak terdeteksi lebih awal sebelum memicu bencana.
Kapolres Biak Numfor tegaskan, Penyidik diperkirakan akan menelusuri rantai kepemilikan, lokasi penemuan awal, hingga aktivitas yang terjadi sebelum ledakan berlangsung.
“Pasca-ledakan, kesadaran masyarakat mulai meningkat, Beberapa warga secara sukarela telah menyerahkan benda-benda peninggalan perang yang selama ini mereka simpan kepada aparat keamanan. Dari penyerahan tersebut, petugas berhasil mengamankan 3 mortir personel aktif dan 30 butir amunisi kaliber 7,62 mm. Penyidik akan melakukan penelusuran rantai kepemilikan hingga aktivitas yang terjadi sebelum terjadinya ledakan”, Tegas Kapolres Ari Trestiawan.
Temuan itu menjadi alarm serius bahwa masih banyak sisa-sisa alutsista Perang Dunia II yang kemungkinan tersebar di wilayah Biak dan berpotensi mengancam keselamatan masyarakat apabila tidak segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
Tragedi Biak kini bukan lagi sekadar peristiwa ledakan biasa. Kasus ini berkembang menjadi penyelidikan besar terkait keberadaan amunisi aktif peninggalan perang di tengah kawasan permukiman. Enam nyawa telah melayang, puluhan warga menjadi korban, dan tiga orang masih menunggu kepastian identitas melalui proses forensik.
Di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung, satu fakta menjadi semakin jelas: bahaya terbesar bukan hanya ledakan yang sudah terjadi, tetapi kemungkinan masih adanya material peledak aktif yang tersembunyi di lingkungan masyarakat.
Kapolres Biak Numfor menghimbau kepada warga yang menemukan, atau memiliki bahan peledak peninggalan perang dunia ke II, berupa mortir, granat, amunisi, atau benda logam mencurigakan agar tidak menyentuh, memindahkan, atau menyimpannya, melainkan segera melaporkannya kepada pihak kepolisian untuk dilakukan penanganan sesuai prosedur yang berlaku.
“Demi keselamatan bersama, Kami menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk dapat bekerja sama. Jika ada diantara masyarakat yang memiliki atau melihat peninggalan perang dunia berupa berupa mortir, granat, amunisi, atau benda logam mencurigakan agar tidak menyentuh, memindahkan, atau menyimpannya, melainkan segera melaporkannya kepada pihak kepolisian. Jika kemudian dalam penyisiran ditemukan benda-benda tersebut ada dan tidak diserahkan, maka kami akan tindak tegas sesuai Hukum yang berlaku”, Pungkas Kapolres Ari Trestiawan.
(Fian/Olin).











