oleh

Tak Sampai

Aku lelaki biasa, pemungut sunyi dari pelataran waktu,
Menganyam harap dalam diam, pada senyummu yang tak pernah tertuju.
Setiap gerakmu seperti puisi yang hidup,
Tapi aku, cuma jeda yang tak kau baca, tak kau kutip.

Aku jatuh, seperti hujan yang rela luruh ke tanah,
Tanpa ditanya mengapa, tanpa diminta singgah.
Kau adalah pagi yang tak pernah kupeluk,
Sementara aku hanya malam—dingin, gelap, dan terhimpit rindu.

Kusapa namamu dalam doa yang tak terjawab,
Menitipkan cinta pada angin yang tak pernah kembali.
Kau tertawa pada dunia lain yang bukan duniaku,
Sedang aku mengendap dalam bayangmu, menanti yang tak tentu.

Tak ada dendam dalam hatiku, hanya luka yang jinak,
Karena mencintaimu adalah perih yang kusambut dengan rela.
Dan meski kau tak membalas, tak mengira, tak merasa—
Aku tetap mencintaimu, dalam sunyi yang tak butuh jawaban apa-apa.