Ada tiga wajah, seindah cahaya rembulan,
berdiri di tepi waktu dengan senyum yang menenangkan.
Mereka berjalan beriring, bagai bunga dalam musim semi,
saling merenda kisah, saling menguatkan hati.
Cantik dan anggun, bukan sekadar rupa,
namun kelembutan jiwa yang sulit terlukis kata.
Dalam setiap tatapan, tersimpan kisah tak terucap,
seperti puisi yang hanya dipahami oleh senyap.
Persahabat mereka, bukan sekadar nama,
melainkan janji pada langit, janji pada masa.
Tangan saling menggenggam saat dunia terasa berat,
air mata yang jatuh, berubah jadi hangat.
Tiga perempuan, tiga cahaya,
menyinari malam paling gelap tanpa perlu berkata.
Meski badai datang merenggut hari,
mereka tetap tegak, dengan cinta yang abadi.
Di antara rindu dan kehilangan yang samar,
mereka tahu persahabatan adalah doa yang tak pernah pudar.
Jika kelak langkah terpisah oleh jarak,
hati mereka tetap satu, tak akan retak.
Karena kecantikan mereka bukan sekadar wajah,
tetapi jiwa yang setia, tulus tanpa batas.
Dan anggun mereka bukan sekadar gerak,
tapi cara mencintai tanpa pernah mengharap balas.
Mereka adalah puisi yang hidup dalam waktu,
melodi romantis, melankolis, namun penuh rindu.
Tiga sahabat, tiga bintang di langit senja,
abadi dalam cinta, takkan pernah sirna.


