Biak Numfor Papua, penanews.net — Bupati Biak Numfor, Markus Octovianus Mansnembra, S.H., M.M., resmi membuka tradisi menangkap ikan tradisional saat air surut (Snap Mor) di Pantai Tanjung Barari, Kampung Menurwar, Distrik Oridek, Sabtu (04/07/2026). Agenda utama Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 ini langsung mengubah pesisir pantai menjadi lautan manusia setelah ribuan warga lokal berdampingan dengan wisatawan asing asal Jerman turun ke laut dengan penuh sukacita.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya nasional, momentum berkumpulnya masyarakat ini juga diwarnai aksi sosial kemanusiaan lewat penyerahan bantuan tunai Rp150 juta dari pemerintah daerah untuk pembangunan gedung gereja baru.
Agenda budaya tahunan ini kian bergengsi setelah resmi masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Dalam pembukaan tersebut, Bupati hadir bersama sang istri dan didampingi oleh Plt. Sekretaris Daerah Biak Numfor, Zakharias L. Mailoa, S.T., M.M., Asisten I Bidang Pemerintahan Sekda Biak Numfor, Simon Rumpaisum, S.H., M.AP., serta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kemeriahan makin lengkap dengan hadirnya tamu istimewa, Gery, seorang turis asal Jerman yang ikut membaur bersama masyarakat.
Di sela-sela kemeriahan acara, Kepala Distrik Oridek, Willyam Mambrasar, ikut terjun langsung mendampingi warganya di bibir pantai. Beliau memberikan pandangan humanis mengenai makna mendalam dari berkumpulnya ribuan orang di wilayah tersebut.
“Melihat senyum yang merekah di wajah anak-anak, orang tua, hingga tamu dari Jerman yang saling berbaur tanpa sekat hari ini, hati saya sangat tersentuh. Snap Mor ini bukan lagi sekadar pesta adat, tetapi momen di mana kita semua menjadi satu keluarga besar di bawah langit Oridek. Laut telah memberi kita makan, dan hari ini kebersamaan ini memberi kita energi baru untuk saling menopang, terutama dalam membantu pembangunan rumah Tuhan di kampung ini. Pintu kami selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin merasakan ketulusan hati masyarakat kami,” ungkap willyam Mambrasar dengan penuh haru.
Sebelumnya, Kepala Kampung Tanjung Barari, Efraim Rumkorem, dalam sambutannya dengan penuh kehangatan menyambut seluruh hadirin yang memadati pesisir pantai mnurwar.
“Halo, selamat datang di alamku, Alam Mnurwar, dan pesonaku, Pesona Budaya Mnurwar. Yang kami hormati Bapak Bupati Kabupaten Biak Numfor bersama Ibu, yang kami hormati Bapak Sekda Kabupaten Biak Numfor, dan yang kami kasih dan kami banggakan, wisatawan yang hari ini dari Jerman jauh-jauh datang ke alam kami, Alam Mnurwar. Inilah Alam Mnurwar, inilah pesonanya, dan inilah budaya di kala Munara Wampasi di setiap bulan Juli,” ujar Efraim.
Efraim juga menjelaskan bahwa tradisi Snap Mor tahun ini sekaligus menjadi wadah kolaborasi sosial dalam rangka usaha dana pembangunan gedung gereja baru melalui jasa parkir motor Rp10.000 dan mobil Rp20.000.
“Itulah yang hari ini kami dapatkan dari Bapak/Ibu guna menopang pembangunan gedung gereja baru. Untuk itu, partisipasi Bapak/Ibu adalah bagian untuk membangun sebuah gedung gereja yang baru. Semoga alam di hari ini dapat menyapa kita, dan mudah-mudahan kegiatan Snap Mor di hari ini, Bapak/Ibu bisa bawa pulang satu dua ekor (ikan) menjadi bagian Bapak/Ibu telah hadir di tempat ini. Terima kasih, Tuhan memberkati. Syalom,” pungkas Efraim.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Biak Numfor, Markus Octovianus Mansnembra, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi mendalam saat membuka acara snapmor secara resmi. Beliau menyapa seluruh hadirin dan memberikan penghormatan khusus bagi tamu internasional serta Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun, beserta tim panitia.
“Om Swastyastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan, shalom. Yang sama-sama saling menghormati, saling mengasihi, juga saling membanggakan, kita semua yang sudah berkenan hadir di Pantai Nurwar atau Pantai Tanjung Barari saat ini. Secara khusus untuk salah satu perwakilan dari negara yang luar biasa, Mr. Gery dari Jerman. Sejarah mencatat kembali bagaimana andil dari bangsa Jerman untuk tanah Papua,” ungkap Bupati.
Bupati mengajak seluruh masyarakat bersyukur atas berkat kesehatan dan alam yang luar biasa, serta berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Beliau juga membeberkan prosesi adat sasi di balik melimpahnya potensi laut pada hari ini.
“Belajar dari pengalaman, karena Tuhan telah memberikan masyarakat di sini alam yang luar biasa, kawasan ini sudah didoakan hampir 6 bulan lalu melalui proses sasi. Masyarakat tidak bisa beraktivitas di atas kawasan yang ada. Dan hari ini, didoakan, sebentar secara simbolis kita akan sama-sama membuka sasi ini dan kita akan menikmati berbagai ikan yang saat ini sedang tersedia. Mari kita menjaga budaya kita, kita menjaga alam kita, karena apa yang dimiliki kita saat ini belum tentu dimiliki oleh daerah lain,” tegas Bupati yang kemudian menutup sambutannya dengan sebuah pantun jenaka, “Burung cenderawasih, burung mambruk. Sekian dan terima kasih.”
Sebagai wujud nyata dukungan pemerintah terhadap kepanitiaan gereja, Bupati secara langsung menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp150 juta kepada jemaat GKI Bahtera Injil Mnurwar guna menunjang percepatan pembangunan gedung gereja baru tersebut.

Setelah sasi resmi dibuka, ribuan peserta langsung turun ke area pantai yang surut menggunakan alat tradisional seperti jaring atau kalawai (tombak ikan). Keunikan dan kemudahan menangkap ikan pada momen ini menuai decak kagum dari para pengunjung yang hadir. Sepert halnya yang disampaikan langsung oleh seorang pengunjung, Pithein Inggabouw.
“Saya sangat puas dengan keseruan Snap Mor tahun ini. Luar biasa sekali, hanya dengan menggunakan sepotong kayu, saya sudah bisa menangkap banyak ikan di sini,” ungkap Pithein Inggabouw, dengan raut wajah bahagia.
Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 7 Juli ini tidak hanya sukses menjadi wadah pelestarian budaya luhur suku Biak, tetapi juga menjelma sebagai magnet pariwisata internasional yang berdampak langsung pada perputaran ekonomi daerah [Bupati Markus Mansnembra buka Festival Biak Munara Wampasi sebagai KEN 2026.
Langkah kaki ribuan pengunjung yang perlahan meninggalkan pesisir Oridek sore itu membawa serta cerita indah tentang kebaikan alam Mnurwar. Setiap rupiah dari jasa parkir yang disumbangkan warga, serta ketulusan para pengunjung yang memadati pantai, kini telah menjelma menjadi batu bata pertama bagi impian jemaat GKI Bahtera Injil memiliki gedung gereja baru. Di balik riuhnya tawa sukacita para pemburu ikan tradisional, Snap Mor tahun ini sukses membuktikan bahwa keindahan pariwisata yang sesungguhnya terletak pada ketulusan hati manusia yang saling menopang satu sama lain.
(Fian/Olin).











